BRIN Dorong Konsep Ekonomi Sirkular Biru untuk Tingkatkan Nilai Tambah Kampung Nelayan Merah Putih

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jul 2026, 16:03
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi: Kapal perikanan bantuan Kementerian Transmigrasi bersandar di dermaga Pelabuhan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Rempang, Batam, Kepulauan Riau Ilustrasi: Kapal perikanan bantuan Kementerian Transmigrasi bersandar di dermaga Pelabuhan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Rempang, Batam, Kepulauan Riau (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andrian Ramadhan, mengusulkan penerapan konsep ekonomi sirkular biru sebagai upaya menciptakan nilai tambah yang inovatif di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Dalam diskusi yang berlangsung di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026, Andrian menjelaskan bahwa kawasan pesisir dan sentra perikanan saat ini tengah menghadapi persoalan lingkungan yang cukup serius akibat penumpukan beragam jenis limbah yang belum dikelola secara optimal.

"Bagaimana kita bisa menciptakan sistem yang bisa kita turunkan, yang bisa berputar terus untuk meminimumkan limbah yang selama ini menjadi masalah yang nggak ada nilai ekonominya menjadi bernilai ekonomi," katanya.

Ia mengungkapkan, limbah yang menumpuk di wilayah pesisir terdiri atas berbagai jenis, seperti sampah plastik, sisa limbah organik hasil perikanan yang membusuk, bubu yang rusak, hingga jaring dan alat tangkap yang tertinggal maupun sengaja ditinggalkan di laut.

Baca Juga: Di Paripurna DPR, Prabowo Ungkap Target 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih dalam Tiga Tahun

Menurut Andrian, modernisasi yang diusung dalam Program Kampung Nelayan Merah Putih seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mengubah persoalan sampah menjadi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular yang dinilai memiliki prospek besar ialah pemanfaatan cangkang rajungan menjadi produk turunan bernilai tinggi, seperti chitosan.

Selain itu, limbah ikan yang tidak memenuhi standar kualitas untuk dipasarkan juga dapat diolah melalui fasilitas KNMP menjadi pakan ternak mandiri. Langkah tersebut dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan pesisir.

Tak hanya limbah organik, sampah plastik yang mencemari pelabuhan dan wilayah pantai juga dinilai memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber energi maupun bahan bakar alternatif bagi perahu nelayan dengan memanfaatkan teknologi pirolisis.

Baca Juga: Kemensos Libatkan BRIN untuk Perkuat Sekolah Rakyat dan Program Pemberdayaan

Andrian menilai, strategi diversifikasi pendapatan melalui pengembangan industri pengolahan limbah lebih realistis dibandingkan terus mendorong peningkatan hasil tangkapan ikan di tengah kondisi sumber daya laut yang semakin terbatas.

"Sehingga fokusnya menciptakan hal-hal yang baru yang tadinya nggak ada, daripada kita sesak di permainan yang sudah ada. Misalkan kita fokus menambah hasil perikanan, padahal memang kadang-kadang kita di beberapa tempat sumber daya perikanannya sudah susah," ujar Andrian Ramadhan.

(Sumber: Antara)

x|close