Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi terjadi seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia. Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan dan tidak mengalami kenaikan.
Bahlil menjelaskan, harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme pasar yang tercermin melalui Indonesian Crude Price (ICP). Dengan demikian, perubahan harga minyak mentah dunia akan berdampak terhadap harga BBM non-subsidi di dalam negeri.
Kementerian ESDM sebelumnya menetapkan harga ICP pada Juni 2026 sebesar US$83,45 per barel. Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan ICP pada bulan sebelumnya yang berada di level US$106,56 per barel.
"Ya kan saya dari awal katakan, bahwa menyangkut dengan BBM yang non-subsidi, itu harganya memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP. Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin, 3 Agustus 2026.
Baca Juga: Prabowo Targetkan Timnas Indonesia Lolos ke Piala Dunia 2030
Menurut Bahlil, penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan oleh masing-masing badan usaha penyedia BBM dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar.
"Dan sekarang kan lagi turun. Kemudian badan usaha swasta melakukan koreksi terhadap penurunan harga itu," ujarnya.
Namun, dia menilai pergerakan harga BBM non-subsidi ke depan masih akan dipengaruhi situasi geopolitik internasional. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap naik-turunnya harga minyak mentah dunia.
"Ya tergantung kondisi geopolitik dunia," katanya.
Di sisi lain, Bahlil menegaskan masyarakat tidak perlu mencemaskan harga BBM bersubsidi. Pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM subsidi tetap stabil meskipun harga energi global mengalami perubahan.
"Yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting," tegasnya.
Bahlil menyebut BBM bersubsidi mendominasi konsumsi BBM nasional dengan porsi sekitar 80 persen. Adapun konsumsi BBM non-subsidi berada di kisaran 20 persen dan lebih banyak digunakan masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang lebih tinggi.
"Karena total pemakaian BBM 80% itu subsidi. Yang non-subsidi itu 20%, itu kan bagi yang mampu. Tapi yang 80% itu tetap menjadi bagian yang ditanggung jawab oleh pemerintah, yaitu subsidi," pungkas Bahlil.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral Bahlol Lahadalia (NTVnews)