Ntvnews.id, Jakarta - Penggunaan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) hasil pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berpotensi memangkas beban subsidi LPG negara hingga sekitar Rp26 triliun per tahun. Proyeksi efisiensi anggaran secara signifikan ini disampaikan langsung oleh Kepala BRIN, Arief Satria, di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
"Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG," ujar Arif dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto bersama 150 peneliti BRIN di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8).
Arief memaparkan bahwa ANG menjadi salah satu inovasi strategis di sektor energi yang digarap BRIN melalui kolaborasi sister lab bersama peraih Nobel Kimia 2025, Susumu Kitagawa. Terobosan ini memanfaatkan kelimpahan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) di dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor LPG.
"Jadi, CNG sebagai gas alam Indonesia ini sangat melimpah, namun pada saat yang sama kita tergantung pada LPG. Selama ini, impor LPG sangat besar," kata Arif.
Melalui penerapan metal organic framework, teknologi ANG mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan gas alam pada tekanan rendah 30 bar. Hasilnya, tabung berukuran setara LPG 3 kilogram memiliki daya tahan pemakaian yang jauh lebih lama.
"Kalau orang saat ini menggunakan LPG misalnya 3 kilogram menghasilkan waktu 10 hari, sekarang dengan teknologi baru bisa 15 hari, satu setengah kali. Nah sekarang riset terus kita lakukan agar bisa dua kali lipat. Kalau ini diterapkan maka bisa menghemat Rp26 triliun per tahun terkait dengan energi ini," lanjutnya.
Merespons paparan tersebut, Presiden Prabowo meminta agar proses riset dan komersialisasi teknologi ANG dapat diakselerasi. Arief menegaskan bahwa inovasi ini tidak sekadar menghemat devisa negara dari pengurangan impor, melainkan juga memperkuat ketahanan energi nasional berbasis pemanfaatan sumber daya domestik.
"Pak Presiden sangat berpesan kalau bisa dipercepat untuk implementasi pemanfaatan ANG dengan teknologi baru ini. Karena ini satu hemat devisa, tapi yang kedua lebih penting lagi adalah memiliki simpanan gas yang lebih besar untuk ukuran yang sama," katanya.
Saat ini, BRIN tengah merampungkan fase uji coba yang ditargetkan selesai pada 2026. Jika seluruh proses berjalan lancar, teknologi ANG siap diperkenalkan secara luas ke publik pada 2027 sebagai solusi alternatif pengganti LPG impor.
"Yang jelas di kami ini kami sedang uji coba ya yang tahun 2026 uji coba, moga-moga 2027 bisa kita rilis," ucap Arif.
(Sumber;Antara)
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memberikan laporan pelaksanaan saat menggelar hasil riset dan inovasi dari BRIN di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026). (Antara)