Ntvnews.id, Jakarta - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital terus memprioritaskan pembangunan sarana akses internet untuk menunjang pelayanan publik di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital Fadhilah Mathar mengatakan pembangunan akses internet tersebut telah menjangkau lebih dari 31.000 lokasi. Sebagian besar titik berada di sektor pendidikan.
"BAKTI sudah membangun akses internet di 31.000 lebih lokasi, yang sebagian besar ada di sektor pendidikan, yakni 68 persen," kata Fadhilah Mathar dalam acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Selain pendidikan, pembangunan akses internet BAKTI mencakup sejumlah sektor lainnya. Sebanyak 5,89 persen titik berada di sektor pelayanan kesehatan, 19,94 persen di kantor pemerintahan, sedangkan 1,53 persen lainnya tersebar di pusat kegiatan masyarakat.
Baca Juga: Kehadiran Internet BAKTI Komdigi Bantu Sekolah di Tengah Wilayah Bencana
Pusat kegiatan masyarakat tersebut meliputi pasar, tempat ibadah, pos pertahanan dan keamanan, tempat wisata, layanan usaha, hingga transportasi publik.
Fadhilah menjelaskan pembangunan konektivitas BAKTI berlandaskan empat prinsip utama. Keempat prinsip tersebut mencakup keberlanjutan masyarakat, kualitas layanan, pengembangan UMKM, serta keberlanjutan industri.
"Ada empat kaki. Pertama adalah keberlanjutan masyarakat, karena hal ini akan membantu adopsi dan inklusi. Kedua, kualitas layanan. Ketiga, mendorong skalabilitas UMKM. Keempat, dan tidak kalah penting, adalah keberlanjutan industri. Jangan sampai pemerintah hadir justru mematikan lahan komersial," ia menjelaskan.
Untuk memperluas konektivitas hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), BAKTI mengoperasikan sejumlah infrastruktur telekomunikasi secara terintegrasi.
Baca Juga: BAKTI Komdigi Bangun Infrastruktur Digital di 31 Ribu Lokasi 3T, Fokus Perkuat Layanan Publik
Salah satunya adalah Satelit Republik Indonesia (SATRIA 1) yang memiliki kapasitas 150 Gbps. Sejak 2024, satelit tersebut digunakan untuk menyediakan akses internet bagi sejumlah fasilitas publik, seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, serta pos perbatasan TNI dan Polri.
SATRIA 1 juga menjadi salah satu infrastruktur utama untuk mendukung layanan telekomunikasi di wilayah yang belum terhubung melalui jaringan darat.
Selain satelit, BAKTI mengelola jaringan serat optik Palapa Ring yang memiliki panjang 12.148 kilometer. Infrastruktur tersebut melayani 131 lokasi Network Operation Center (NOC) yang tersebar di 57 kabupaten/kota di wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.
Peningkatan konektivitas juga dilakukan melalui program BAKTI AKSI dan BAKTI Sinyal. BAKTI AKSI telah menyediakan akses internet gratis di lebih dari 31.864 titik layanan publik di berbagai daerah Indonesia.
Sementara itu, BAKTI Sinyal mencakup pembangunan BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) pada 6.747 lokasi di wilayah 3T. Pembangunan tersebut menggunakan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dana USO.
Pembangunan infrastruktur digital tersebut turut dikombinasikan dengan program pemberdayaan Ekosistem Digital dan Kemitraan BUMDes.
Melalui berbagai program seperti pelatihan literasi digital, digitalisasi sektor pariwisata, serta penguatan kemitraan BUMDesma, BAKTI mendorong masyarakat desa agar dapat meningkatkan kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
"Infrastruktur ini sangat membantu pemerintah untuk ke depannya menjadikan konektivitas ini sebagai alat untuk mendorong produktivitas masyarakat," kata Fadhilah.
(Sumber: Antara)
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital Fadhilah Mathar menyampaikan sambutan dalam acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026. (Antara)