Ntvnews.id, Jakarta - Perempuan memiliki peran strategis dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, baik di bidang ekonomi maupun sosial politik.
Namun, sejumlah tantangan terkait kesetaraan gender masih menjadi pekerjaan rumah, terutama dalam akses perempuan ke ruang publik dan posisi strategis.
Wakil Rektor Penjaminan Mutu dan Kemitraan Universitas Paramadina, Prof Dr Iin Mayasari, mengatakan salah satu pilar utama kemerdekaan perempuan adalah tersedianya ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis di ruang publik.
"Alhamdulillah Paramadina telah mengambil peran itu, memberi ruang bagi para Perempuan Paramadina mengambil peran stratetgis,” ujarnya dalam webinar Universitas Paramadina bertajuk Refleksi Kemerdekaan oleh Perempuan Paramadina: Bidang Ekonomi dan Sosial Politik.
Di bidang ekonomi, perempuan saat ini tidak lagi hanya berperan sebagai penopang rumah tangga. Perempuan telah menjadi penggerak utama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus motor ketahanan ekonomi keluarga.
Baca juga: Perempuan 20 Tahun Tewas di Kontrakan Tangerang
Sementara di bidang sosial politik, keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan kebijakan dinilai mampu menghadirkan perspektif yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadilan.
“Di parlemen dan pemerintahan, atau organisasi sosial menjadi syarat mutlak bagi demokrasi yang lebih baik dan sehat,” katanya.
Meski demikian, Iin mengakui masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi perempuan, mulai dari ketimpangan gender, hambatan kultural, hingga akses yang belum merata.
Senada, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr Rini Sudarmanti,
menjelaskan jumlah perempuan dan laki-laki di Indonesia relatif berimbang.
Oleh karena itu, keduanya harus bekerja sama untuk memajukan Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: MUI Ingatkan Peserta Karnaval 17 Agustus Dilarang Pakai Baju Perempuan dan Potensi Berjudi
"Yang jadi pertanyaan di usia ke 81 Indonesia, benarkah ruang publik bagi Perempuan di Indonesia benar benar sudah Merdeka?," ungkap RIni.
Dalam hal ini, ia mengakui sejumlah indikator menunjukkan adanya perbaikan posisi perempuan.
Dari data Indeks ketimpangan gender membaik, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat, begitu pula keterlibatan perempuan dalam ekonomi kreatif dan kursi legislatif.
Namun, peningkatan partisipasi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kesetaraan dalam posisi strategis.
“Meski Tingkat partisipasi telah meningkat, tapi posisi tetap dominan laki-laki," bebernya.
Ia menjelaskan, meskipun jumlah perempuan yang lulus dari pendidikan STEM cukup besar, tapi perempuan yang bekerja di bidang sains dan teknologi disebut hanya sekitar 8 persen.
Baca juga: Viral! Perempuan Diintip Roknya Saat Belanja di Minimarket Bintaro
Rini juga menyebut partisipasi perempuan di sektor tersebut telah mencapai 57 persen, tetapi perempuan yang menduduki posisi puncak strategis baru sekitar 17 persen.
"Jika di kampus jumlah Perempuan banyak sekali, namun ketika masuk ke ranah public, jumlah itu kontan menghilang entah ke mana," bebernya.
Dalam kesempatan itu, Rini menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, skor gender gap Indonesia berada di angka 0,692, menempatkan Indonesia di peringkat 97 dari 148 negara dunia dan peringkat ketujuh di ASEAN.
“Angka di gender gap ternyata 0,692, artinya banyak aspek kehidupan di ranah publik antara laki laki dan Wanita belum setara 97 dari 148 negara dunia, di ASEAN di peringkat 7," tandasnya.
Ilustrasi Pekerja (ANTARA/Hafidz Mubarak)