Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.820 hingga Rp17.880 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah berpeluang pelemahan rupiah meski mata uang Garuda sebelumnya menguat setelah pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat 14 Agustus 2026 bergerak menguat 50 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.827 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.877 per dolar AS.
"Walaupun kemarin menguat pidato presiden cukup bagus juga tentang APBN tahun 2027, tetapi ada kemungkinan bahwa rupiah kemungkinan besar dibuka melemah. Mungkin karena faktor eksternal. Rangenya di Rp17.820 sampai di Rp17.880. Jadi ada kemungkinan besar ada 60 poin perlemahan mata uang rupiah," ucap Ibrahim dalam kajiannya, Minggu 16 Agustus 2026.
Baca juga: Prabowo Tetapkan Asumsi Rupiah Rp17.500 per Dolar AS dalam RAPBN 2027
Dari eksternal, Ibrahim menyoroti meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Menurutnya, pernyataan Presiden AS Donald Trump dan respons Iran menunjukkan masih adanya ketegangan antara kedua pihak.
Selain itu, situasi di Laut Merah juga menjadi perhatian setelah kelompok Houthi Yaman disebut melakukan serangan terhadap kapal tanker yang berkaitan dengan Iran dan Arab Saudi.
"Ini pun juga membuat ketegangan tersendiri di Laut Merah. Jadi bukan lagi Iran sebagai musuh utama Amerika, bisa saja Yaman Houthi akan dijadikan sebagai musuh Utama," ungkap Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai menyeroti pidato Presiden Presiden Prabowo Subianto yang menyampaikan target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen.
Adapun angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Pemerintah mematok inflasi sebesar 2,5 persen serta defisit anggaran dalam RAPBN 2027 sebesar Rp671,2 triliun atau sekitar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2027 yang dipatok Rp17.500 per dolar AS, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Kamis Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS
Ibrahim pun memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi berada di atas Rp18.000 per dolar AS pada 2027 apabila tekanan eksternal berlanjut.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah yang berada di atas asumsi pemerintah dapat memberikan tekanan terhadap defisit APBN.
"Saya melihat bahwa ada kemungkinan besar yang di tahun 2027, rupiah itu kemungkinan di atas Rp18.000," bebernya.
Ibrahim juga menyoroti asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang dipatok USD75 per barel dalam RAPBN 2027.
Ia menilai apabila konflik geopolitik terus memanas, harga minyak mentah dunia berpotensi bertahan di atas USD80 per barel pada 2027.
Baca juga:Rupiah Menguat ke Rp17.911 per Dolar AS Seiring Turunnya Harga Minyak Dunia
"Tahun 2027 kemungkinan besar harga minyak mentah WTI itu masih akan di atas 80. Karena terjadinya perang apalagi di Laut Merah dengan di Selat Hormuz. Nah ini yang menjadi patokan yang kemungkinan besar ini akan membuat APBN kita defisit," tandasnya.
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist