Ntvnews.id, Jakarta -Sinergi antara PT Bank Mandiri Taspen bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) mewujud dalam pengembangan model ekonomi sirkular bagi para pensiunan melalui pengoperasian fasilitas budidaya unggas terpadu dan pengolahan sampah organik berbasis magot black soldier fly (BSF) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Program tanggung jawab sosial korporasi ini mengintegrasikan penanganan sampah organik, budidaya magot dan peternakan unggas, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal beserta para purnatugas.
“Para pensiunan bisa mengisi hari-hari mereka bersama dengan warga agar sampah organik menjadi sumber makanan bagi magot, dan magot bisa dimakan oleh ayam, lalu ayamnya bertelur,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (18/8).
Fasilitas ini diproyeksikan sebagai proyek percontohan yang akan dievaluasi sebelum dikembangkan ke berbagai wilayah lain. Bank Mandiri Taspen juga menyatakan kesiapannya dalam menyalurkan pembiayaan bagi pensiunan yang berminat mengelola usaha budidaya magot serta unggas tersebut.
Baca juga: Bank Mandiri Taspen Dukung Proses Hukum Kasus Eks Pegawai yang Jadi Tersangka
“Jika ini berhasil, bisa disebarluaskan ke mana-mana. Kita mau lihat modelnya, kita mau lihat use case-nya. Ini bisa menjadi salah satu sumber kegiatan bagi para senior citizens (lansia),” ujarnya.
Panji menguraikan bahwa porsi penduduk lansia di Indonesia saat ini mencapai kisaran 12 persen, sementara nasabah pensiunan yang berada di bawah naungan Bank Mandiri Taspen tercatat sekitar 670 ribu orang di seluruh penjuru negeri. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekonomi sirkular, di mana ITB menyuplai inovasi teknologi, warga bertindak sebagai pengelola di lapangan, dan Bank Mandiri Taspen memberikan skema perbankan.
Sebagai komparasi, pihaknya pernah menyalurkan modal usaha sekitar Rp45 juta bagi pensiunan untuk bisnis laundry kiloan, dan kebutuhan investasi untuk fasilitas magot-unggas ini diperkirakan berada di kisaran nominal yang sama atau bahkan lebih terjangkau.
Dari sisi teknologis, pengagkat fasilitas pengolahan magot dari ITB, Linus Ampang Pasasa, menjelaskan bahwa metode konvensional nan sederhana ini mampu menguraikan sampah organik hanya dalam tempo sekitar dua hari. Sebuah unit pengolahan yang dijuluki "apartemen magot" memerlukan biaya pembuatan sekitar Rp45 juta dan sanggup menopang pakan untuk 100 ekor ayam di atas lahan seluas 6 meter persegi.
Baca juga: UGM dan BRIN Kembangkan Sistem Peternakan Ayam Terintegrasi dengan Maggot BSF
“Jumlah ayam dalam satu unit saat ini baru sekitar 40 ekor lantaran pasokan sampah organik yang tersedia masih terbatas,” ujarnya.
Kapasitas pengolahan pada fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 250 kilogram sampah per hari tergantung ketersediaan pasokan. Linus menambahkan bahwa unit ini juga membuka peluang kemitraan untuk menampung sampah organik dari sektor perhotelan, restoran, hingga kafe. Dalam alur kerjanya, sampah organik diubah menjadi pakan magot, yang selanjutnya magot tersebut dijadikan pakan kaya protein untuk ayam. Hasil sampingan berupa telur dapat dimanfaatkan untuk biaya operasional maupun program sosial.
“Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya,” ucap Linus.
Direktur Bisnis Bank Mandiri Taspen Mahrauza Purnaditya menyampaikan bahwa porsi program tanggung jawab sosial perusahaan kini semakin diarahkan pada isu kelestarian lingkungan yang berdampak ekonomi.
Mengingat komposisi sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) didominasi oleh materi organik hingga 60 persen, integrasi peternakan ayam dan magot ini menjadi solusi holistik. Langkah ini juga menjadi bagian dari pilar program Mantap Sejahtera untuk menjaga produktivitas para purnatugas, melengkapi program lain seperti Warung Mantap Sejahtera, hidroponik, dan usaha laundry.
Baca juga: Kampus Kolaborasi ITB dan Sinar Mas Ini Tancap Gas Menuju Research University
“Dalam perkembangannya, malah di beberapa tempat justru kekurangan sampah organik. Ini semangat kita, mengapa tidak kita lakukan di sejumlah rumah tangga,” tuturnya.
Integrasi pengelolaan limbah, budidaya magot, peternakan unggas, dan produksi telur ini diharapkan mampu mendorong lingkungan yang bersih, menggerakkan ekonomi warga, serta memperkuat ketahanan pangan tingkat lokal.
“Kolaborasi yang baik bukan hanya menghasilkan sebuah program, tetapi dapat menciptakan manfaat yang terus hidup bahkan setelah program tersebut selesai,” ujar Mahrauza.
Peluncuran program ini turut disaksikan oleh Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, perwakilan PT Taspen (Persero), PT Asabri (Persero), jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta para penerima manfaat program.
Baca juga: Bank Mandiri Taspen Optimistis Kembangkan Silver Economy demi Perkuat Pertumbuhan Bisnis
(Sumber: Antara)
Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen Panji Irawan (kiri), Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail (tengah), dan penggagas fasilitas pengolahan magot dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Linus Ampang Pasasa (kanan) meninjau fasilitas budidaya unggas terpadu dan pengelolaan sampah organik menggunakan magot black soldier fly (BSF) di Bandung Barat, Jawa Barat (Antara)