Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga menjabat CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa respons para investor serta pengelola kekayaan keluarga (family office) se-Asia sangat baik terkait proyek pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Antusiasme tinggi ini terlihat jelas saat forum pertemuan khusus yang digelar di Nusa Dua, Bali. Tingkat kehadiran peserta bahkan melonjak tajam melebihi target dari yang semula hanya mengundang 70 pihak menjadi 110 perwakilan yang hadir di lokasi.
“Kita undang ada 70 untuk Asia tapi yang datang sampai 110 dan response-nya alhamdulillah boleh saya sampaikan sebetulnya sangat positif,” kata Rosan dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Kendati dibanjiri sinyal positif, para calon investor menegaskan pentingnya kepastian skema operasional dan legalitas PFII. Para pelaku industri keuangan global tersebut berharap tata kelola yang dirancang pemerintah Indonesia mampu menyamai regulasi tingkat internasional.
“Tentunya mereka juga ingin melihat bahwa structure dari format dari PIFII ini benar-benar structure yang sesuai dengan standar dunia,” ujarnya.
Rosan menegaskan bahwa penggodokan PFII menuntut tingkat ketelitian dan strategi matang demi membangun fondasi kepercayaan pasar internasional. Sejauh ini, gerak cepat pemerintah baru berfokus menjaring ceruk pasar finansial dari kawasan Asia saja.
“Kemarin yang kita temuin itu baru investor atau family office dari Asia dulu,” ungkap Rosan.
Agenda penjajakan untuk merangkul potensi investasi dari kawasan Eropa hingga kawasan Timur Tengah dijadwalkan akan menyulul pada tahapan berikutnya.
Mengenai penentuan lokasi operasional, Rosan menegaskan bahwa fase perdana PFII dipastikan akan dipusatkan di Jakarta. Keputusan ini diambil agar roda operasional lembaga keuangan tersebut dapat segera berputar tanpa perlu menanti proses konstruksi fisik yang memakan waktu lama, seperti rencana pengembangan paralel di Bali.
“Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu. Kenapa? Karena Bapak Presiden ini pengen semua langsung kerja, ada momentumnya ya. Walaupun nanti yang rencana juga di Bali karena di Bali kan pembangunan akan take time ya untuk membangun infrastrukturnya, gedungnya, dan yang lain-lainnya,” ucap Rosan.
Dari sisi regulasi dan eksekusi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi bersama Kementerian Keuangan tengah mematangkan kerangka kerja PFII yang landasan hukumnya telah diakomodasi melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Sementara itu, Danantara Indonesia ditugaskan mengawal pemenuhan infrastruktur pendukung, gedung, hingga fasilitas fisik penunjang lainnya.
Baca juga: CEO Danantara Ungkap Eks Hotel Sultan Akan Ditata Ulang, Bakal Jadi Ikon Baru Indonesia
“Kalau Danantara ini kita sebetulnya hanyalah sebagai pembangun untuk infrastrukturnya, gedung, dan sarana infrastruktur lainnya,” ujarnya.
Pemerintah berikhtiar akan terus mengintensifkan promosi dan diseminasi informasi terkait keunggulan PFII guna menyedot arus modal asing secara berkelanjutan.
“Dan oleh sebab itu kita akan melakukan sosialisasi secara berkala dan juga secara terus-menerus,” kata dia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani memberikan keterangan kepada wartawan usai Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, (Antara)