Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat tipis pada pembukaan perdagangan Jumat 2 Oktober 2026.
Adapun Rupiah naik 11 poin atau 0,06 persen menjadi Rp17.955 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
"Dolar AS memang sedikit terkoreksi, dan imbal hasil obligasi turun cukup besar semalam, namun saya melihat rupiah masih cenderung akan tertekan hari ini," ucap Lukman kepada Ntvnews.id, Jumat 2 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari kembali meningkatnya harga minyak mentah dunia di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca juga: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Tertekan ke Rp17.915
"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS seiring kenaikan kembali harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul pengerahan kapal induk ketiga oleh AS serta sinyal kemungkinan berlanjutnya serangan udara terhadap Iran," jelasnya.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak dalam rentang Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS.
BI Siapkan Langkah Jaga Stabilitas Rupiah
Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (Antara)
Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah langkah untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah menghadapi tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa kebijakan moneter akan terus diperkuat secara konsisten melalui beberapa instrumen.
Baca juga: Rupiah Bangkit, Menguat ke Level Rp17.925 per Dolar AS
Salah satu fokusnya adalah meningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas devisa sekaligus menjaga kecukupan likuiditas melalui operasi moneter.
“Kami akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, kemudian juga kami akan terus memperkuat kecukupan likuditas melalui repo operasi moneter untuk non-SBN,” kata Destry dalam Raker bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 28 September 2026 lalu.
Untuk mendukung kebutuhan likuiditas, BI telah menyediakan fasilitas repo bagi surat berharga non-SBN. Fasilitas tersebut saat ini sudah diterapkan pada surat berharga yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist