Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf mengusulkan agar penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia dibagi ke dalam tiga klaster berdasarkan karakteristik dan kesiapan masing-masing wilayah.
Tiga klaster tersebut meliputi perkotaan, perdesaan, dan daerah tertinggal.
Menurut Dede, pendekatan ini diperlukan agar transformasi digital tidak diterapkan secara seragam, mengingat setiap daerah memiliki kondisi infrastruktur, kebutuhan masyarakat, serta kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berbeda.
“Kita bagi menjadi tiga kelompok, perkotaan, perdesaan dan daerah tertinggal,” ujar Dede usai menghadiri kegiatan Pink Model United Nations (PinkMUN) 2026 di Kampus Binus, Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Dede menjelaskan, wilayah perkotaan dinilai paling siap untuk mengadopsi teknologi AI. Ketersediaan infrastruktur digital dan SDM yang relatif lebih baik membuat pemanfaatan AI dapat didorong lebih cepat di kawasan tersebut.
Sementara itu, penerapan AI di wilayah perdesaan harus dilakukan secara lebih selektif.
Teknologi, menurut Dede, seharusnya digunakan untuk membantu meningkatkan produktivitas masyarakat tanpa menghilangkan pekerjaan yang masih menjadi penopang utama kehidupan warga.
“Kalau semuanya larinya ke teknologi dan AI, enggak ada yang mau jadi petani. Siapa yang mengolah sayur kita, siapa yang mengolah peternakan kita?” kata Dede.
Karena itu, pemanfaatan AI di desa perlu diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat, termasuk membantu sektor pertanian, peternakan, pelayanan publik, hingga peningkatan produktivitas usaha masyarakat.
Adapun untuk daerah tertinggal, Dede menilai pemerintah harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas SDM sebelum mendorong penggunaan AI secara luas.
Menurutnya, kondisi geografis Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat transformasi digital. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas, Indonesia membutuhkan strategi dan investasi besar agar akses teknologi tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
Pembangunan infrastruktur digital, termasuk jaringan komunikasi dan satelit, dinilai menjadi fondasi penting untuk memperluas konektivitas hingga wilayah terpencil.
Dede menekankan bahwa perkembangan AI harus berjalan beriringan dengan pemerataan pembangunan. Dengan pembagian berdasarkan tingkat kesiapan daerah, teknologi diharapkan tidak hanya menjadi alat modernisasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Transformasi AI, menurutnya, bukan sekadar soal seberapa cepat teknologi diterapkan, melainkan juga bagaimana memastikan masyarakat dan setiap daerah memiliki kesiapan untuk menggunakannya secara tepat dan produktif.
Anggota DPR RI Dede Yusuf.