Ntvnews.id, Jakarta - Perusahaan layanan hailing global, Uber, resmi memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya sebagai bagian dari strategi restrukturisasi dan efisiensi internal. Berdasarkan data akhir tahun 2025, perusahaan tercatat memiliki sekitar 34.000 karyawan.
Melalui memo internal yang ditujukan kepada para pegawai, Chief Executive Officer (CEO) Uber, Dara Khosrowshahi, menjelaskan bahwa penataan ulang ini bertujuan untuk menyederhanakan struktur tim serta memangkas jenjang manajemen. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat alur kerja sekaligus memberi ruang lebih besar bagi pengembangan investasi perusahaan.
"Organisasi yang lebih ramping akan membuat tanggung jawab lebih jelas, mempercepat pengambilan keputusan, dan memberikan lebih banyak waktu untuk membangun daripada berkoordinasi," kata Dara sebagaimana dilansir Engadget, Rabu (2/9/2026).
Dara memaparkan bahwa bisnis Uber telah bertumbuh pesat dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ditandai dengan lonjakan pendapatan yang melonjak hampir tiga kali lipat. Kendati demikian, pesatnya ekspansi tersebut turut memicu kompleksitas pada struktur internal perusahaan.
Berdasarkan hasil evaluasi internal, manajemen menemukan bahwa sebagian besar waktu pegawai justru dihabiskan untuk membahas permasalahan administratif dan koordinasi antartim. Guna mengatasi tumpang tindih tersebut, Uber memilih menghapus posisi-posisi yang berfokus pada koordinasi, mengurangi tingkatan hirarki, serta memangkas tim yang dinilai memicu pekerjaan ganda.
Efisiensi finansial yang dihasilkan dari kebijakan pangkas karyawan ini bakal dialokasikan kembali untuk mendanai fokus bisnis jangka panjang. "Langkah ini juga akan menghasilkan penghematan yang kami rencanakan untuk diinvestasikan kembali dalam pertumbuhan, inovasi, serta pengembangan kemampuan yang akan menjadi hal paling penting dalam beberapa tahun mendatang," ujar Dara.
Di samping pemangkasan jumlah pekerja, Uber berencana memusatkan konsentrasi tim global di dua lokasi utama, yakni New York dan San Francisco, dengan tetap mempertahankan pusat teknologi serta operasional regional di berbagai negara.
Perusahaan turut memperketat kebijakan hybrid working. Pegawai yang sebelumnya bekerja penuh dari jarak jauh (remote) kini diwajibkan untuk hadir di kantor setidaknya tiga hari dalam sepekan. Kebijakan baru ini diproyeksikan hanya menyisakan sekitar satu persen karyawan yang diizinkan bekerja secara jarak jauh sepenuhnya.
Langkah restrukturisasi massal ini berjalan berdampingan dengan ekspansi besar-besaran Uber di sektor teknologi otomasi. Pada bulan lalu, Uber berkomitmen mengucurkan dana investasi hingga 10 miliar dolar AS (sekitar Rp177 triliun) guna mengembangkan ekosistem kendaraan otonom, setelah sebelumnya sempat melepas divisi kendaraan tanpa pengemudinya pada 2020.
Logo Uber. (Antara)