Ntvnews.id, Jakarta - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat membawa peluang sekaligus tantangan bagi industri perbankan dan masyarakat. Di tengah pemanfaatan AI yang kian luas, nasabah diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam membagikan data pribadi, terutama informasi yang berkaitan dengan akses finansial.
Praktisi Perbankan Nasional, David Chandrawan, mengatakan masyarakat tidak perlu bersikap paranoid terhadap perkembangan AI. Namun, kewaspadaan dan tata kelola data pribadi harus diperkuat agar teknologi tersebut tidak dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan digital.
Hal itu disampaikan David dalam program “Merah Putih Paradoks Indonesia” yang membahas paradoks bisnis digital, khususnya pertumbuhan pasar digital Indonesia yang masif di tengah tantangan inovasi.
Menurut David, sejumlah informasi yang bersifat rahasia dan berkaitan dengan akses finansial sebaiknya tidak diunggah ke platform atau layanan AI.
“Beberapa data konfidensial terutama terkait akses finansial memang tidak diperbolehkan untuk di-upload di AI,” kata David saat menjadi narasumber dalam program "Merah Putih Paradoks Indonesia" di Nusantara TV, 28 Agustus 2026 yang dipandu host Maria Anneke. Edisi kolaborasi khusus bersama Indonesia Strategic Management Society, bertajuk “Paradoks Bisnis Digital: Pasar Masif, Inovasi Minim?” membedah kenapa pasar digital Indonesia tumbuh masif tapi inovasi orisinalnya masih minim, dari sudut pandang industri kesehatan, perbankan, dan desain inovasi.
Ia mencontohkan tanggal lahir, hasil pemindaian KTP, maupun informasi pribadi lainnya yang berpotensi digunakan untuk menebak kombinasi kata sandi, nama pengguna, atau akses finansial nasabah.
David juga mengingatkan masyarakat agar secara berkala memperbarui kata sandi dan menggunakan kombinasi yang lebih kuat, seperti perpaduan huruf, angka, serta karakter khusus.
“Kalau penggunaan AI secara berkala, kita juga perlu secara berkala update password kita, kombinasi antara huruf sama angka dan pakai tanda-tanda untuk memastikan itu sulit dipecahkan,” ujarnya.
AI dan Tantangan Industri Perbankan
Menurut David, perkembangan AI sebenarnya dapat memberikan manfaat besar bagi industri perbankan, termasuk dalam meningkatkan kualitas layanan, mengurangi risiko, serta memperkuat hubungan dengan nasabah.
Namun, penerapan teknologi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing institusi.
Ia menilai bank dengan dukungan pendanaan yang kuat memiliki ruang lebih besar untuk berinvestasi dan mengembangkan teknologi AI. Sebaliknya, lembaga keuangan yang memiliki keterbatasan modal menghadapi tantangan lebih besar dalam mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Karena itu, menurut David, setiap investasi AI harus memiliki tujuan yang jelas dan tidak sekadar mengikuti tren.
“Ketika kita mau menggunakan AI, tujuan kita menggunakan ini apa? Kalau kita enggak gunakan ini, dampaknya luas terhadap masyarakat apa?” katanya.
David menambahkan, industri perbankan juga perlu memperhitungkan manfaat investasi teknologi dalam jangka panjang. Penggunaan AI, kata dia, harus dikaitkan dengan peningkatan keamanan, kualitas layanan, engagement nasabah hingga pada akhirnya memberikan dampak terhadap profitabilitas.
Baca juga: Antisipasi Ancaman Deepfake, Bawaslu RI Perkuat Kapasitas Pengawas dan Dorong Regulasi AI
AI Didorong untuk Tekan Risiko Perbankan
Dalam pembahasan tersebut, David juga menyinggung peluang pemanfaatan teknologi untuk membantu perbankan menghadapi persoalan Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah.
Menurutnya, AI dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kemampuan bank dalam mengelola risiko. Namun, kenaikan NPL tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan persoalan teknologi karena terdapat pula faktor ekonomi makro dan mikro yang memengaruhinya.
David menjelaskan, kondisi perekonomian yang penuh ketidakpastian membuat sejumlah bank cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
Di sisi lain, bank yang mendapatkan penugasan tertentu dari pemerintah memiliki fungsi untuk turut mendorong pergerakan ekonomi, termasuk membantu sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Dengan adanya kucuran kredit ekonomi bergerak. Cuma dengan kondisi yang uncertain seperti sekarang enggak mudah untuk memastikan itu,” jelasnya.
Ia menilai terdapat perbedaan karakter antara bank yang menjalankan fungsi penugasan dengan bank swasta yang lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.
Bank yang mendapat penugasan, kata David, memiliki peran untuk hadir di sektor-sektor yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk membantu UMKM yang belum memiliki laporan usaha yang sepenuhnya kuat.
“Itulah peranan pemerintah dan bank-bank itu ada di depannya. Jadi, mereka memang harus berkorban demi Merah Putih,” ujarnya.
Menurut David, konsekuensi dari fungsi tersebut adalah adanya risiko yang harus dikelola, termasuk potensi kredit bermasalah.
Masyarakat Harus Melek Keamanan Digital
David menegaskan bahwa perkembangan AI tidak seharusnya membuat masyarakat takut menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah meningkatkan literasi digital dan memahami batasan informasi yang aman untuk dibagikan.
Perbankan, lanjut dia, terus melakukan edukasi kepada nasabah mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan teknologi digital.
Edukasi tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya berbagai modus kejahatan digital, termasuk phishing yang menyasar pengguna layanan perbankan.
Dengan demikian, pemanfaatan AI di sektor keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan keamanan, perlindungan data, edukasi nasabah, serta tata kelola teknologi.
Bagi industri perbankan, AI bukan sekadar alat untuk mengejar efisiensi dan profit, tetapi juga harus dimanfaatkan untuk meningkatkan keamanan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Praktisi Perbankan Nasional, David Chandrawan