Diklaim Paling Cerdas dan Kuat, OpenAI Luncurkan Model AI Terbaru "Astra"

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Sep 2026, 15:31
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi - logo Ilustrasi - logo (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -OpenAI resmi meluncurkan Astra, model kecerdasan artifisial (AI) terbaru yang diklaim sebagai model paling kuat dan cerdas yang pernah dikembangkan oleh perusahaan tersebut hingga saat ini.

Dilansir dari laporan TechCrunch pada Kamis (3/9/2026) waktu setempat, OpenAI menyebut Astra membawa terobosan kemampuan baru dalam penggunaan komputer dan peramban (browser), dengan mengedepankan fokus pada kecepatan, akurasi, serta keamanan dalam mengeksekusi berbagai instruksi tugas.

Pada tahap awal, Astra diakses secara terbatas oleh pelanggan OpenAI yang menggunakan program keamanan siber perusahaan, Daybreak. Dalam sepekan ke depan, ketersediaan model ini akan diperluas untuk pengguna paket berbayar seperti Pro, Plus, Enterprise, dan Business serta dapat diakses melalui layanan OpenAI API.

Presiden OpenAI Greg Brockman menegaskan bahwa Astra merupakan model tercerdas milik perusahaan yang juga memiliki tingkat keselarasan (alignment) terbaik sejauh ini. Ia menjelaskan, Astra berhasil mengintegrasikan hasil riset bertahun-tahun serta beragam inovasi teknologi yang dibangun secara bertahap oleh tim OpenAI.
 

Salah satu keunggulan utama yang diandalkan dari Astra adalah keandalannya di bidang keamanan siber. OpenAI menyatakan Astra telah melalui serangkaian pengujian tolok ukur keamanan secara ketat. Kemampuannya dalam mengidentifikasi sekaligus mengembangkan eksploitasi zero-day dinilai sangat membantu para ahli untuk menemukan dan menambal celah kerentanan siber pada suatu sistem.

Selain itu, OpenAI juga menyoroti performa Astra di bidang pemrograman dan mengklaimnya sebagai model terbaik untuk pekerjaan rekayasa perangkat lunak. Sejumlah hasil uji coba menunjukkan skor Astra melampaui berbagai model AI pesaing dalam menyelesaikan tugas-tugas teknis, seperti mendeteksi bug, mengeksekusi perintah terminal, hingga menjawab pertanyaan kompleks terkait basis kode (codebase).

Kendati menawarkan performa impresif, kehadiran Astra memicu kontroversi di kalangan komunitas teknologi. Hal ini dipicu oleh penggunaan teknik penalaran anyar yang disebut opaque recurrence.

Teknik tersebut membuat proses chain of thought metode yang biasa dipakai para peneliti untuk melacak alur pengambilan keputusan AI menjadi lebih samar dan sulit diamati. Dampaknya, tindakan serta alur berpikir yang diambil oleh AI menjadi semakin menantang untuk diawasi.
 

Pihak OpenAI pun tidak menampik bahwa lonjakan kemampuan model AI membuat proses pengawasan penalarannya kian kompleks. Kepala Ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki menegaskan bahwa pemantauan proses penalaran tetap menjadi pilar vital dalam pengawasan model AI.

Pachocki menerangkan bahwa dalam beberapa kasus, model AI kini sanggup menyelesaikan tugas yang jauh lebih rumit dengan memproses lebih sedikit token bahasa, atau bahkan tanpa memanfaatkan token bahasa sama sekali. Karakteristik inilah yang memicu proses penalaran AI pada tugas-tugas tertentu menjadi kian sulit dipantau secara langsung.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close