Ntvnews.id, Jakarta -Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menerapkan pemanfaatan teknologi citra satelit guna mempercepat industrialisasi tebu di Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini diambil untuk mendukung pemetaan lahan hingga mendeteksi kesesuaian tanaman dalam sistem pertanian modern.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk nyata penerapan ilmu pengetahuan di wilayah transmigrasi.
“Saat ini di Kawasan Transmigrasi Melolo telah berjalan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung industrialisasi tebu. Ini contoh konkret pertanian modern menggunakan teknologi citra satelit, dengan melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam di sana,” kata Iftitah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (14/9).
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Halim Perdanakusuma. Iftitah menekankan bahwa keterbatasan geografis di berbagai wilayah transmigrasi dapat diatasi melalui teknologi kedirgantaraan, mulai dari pencitraan satelit, pemetaan wilayah, hingga penguatan konektivitas.
Pemanfaatan teknologi berteknologi tinggi ini dirancang agar dapat memacu produktivitas kawasan sekaligus menggerakkan roda ekonomi berbasis potensi lokal.
Sebagai gambaran pengembangan kawasan tersebut, catatan Kementerian Transmigrasi per Agustus 2025 menunjukkan sektor industri gula di Melolo berhasil menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja tetap. Angka penyerapan tenaga kerja bahkan dapat melonjak hingga 6.000 orang sewaktu musim panen tiba.
Tebu yang dibudidayakan di Melolo memiliki kualitas di atas rata-rata. Rendemen atau kadar gula tebu di kawasan ini mencapai hingga 21 persen, jauh melampaui standar rata-rata nasional yang berada di kisaran tujuh persen. Potensi perkebunan ini didukung oleh operasional pabrik gula terpadu PT Muria Sumba Manis di Sumba Timur yang memegang kapasitas penggilingan hingga 12 ribu ton tebu per hari.
Iftitah menjelaskan bahwasanya paradigma transmigrasi telah mengalami pergeseran mendasar. Orientasinya kini bukan lagi sebatas pemerataan jumlah penduduk, melainkan pembentukan pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
“Bukan hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana kita membangun industrialisasi di luar Pulau Jawa. Dengan adanya industrialisasi, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan pada akhirnya aktivitas ekonomi serta penerimaan negara juga tumbuh,” ujar Iftitah.
Guna mendukung arah kebijakan baru tersebut, Kementrans meluncurkan program Transmigrasi Patriot melalui pengiriman Tim Ekspedisi Patriot (TEP). Program ini menjembatani akademisi dari perguruan tinggi untuk melakukan riset, pengkajian potensi wilayah, serta pendampingan langsung kepada masyarakat. Pada tahun 2026, sebanyak 1.476 peserta TEP yang terbagi dalam 246 tim diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
Menurut Iftitah, ruang potensi kawasan transmigrasi membentang luas tidak terbatas pada sektor pertanian semata, melainkan merambah sektor maritim, pariwisata, hingga industri pengolahan sumber daya lokal.
“Pendekatan transmigrasi saat ini berbeda. Kita menghadirkan SDM unggul, teknologi, dan industrialisasi agar kawasan tumbuh dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ucap dia.
Dukungan atas langkah ini datang dari kalangan akademisi. Rektor Unsurya Marsda TNI (Purn) Sungkono menyatakan bahwa teknologi kedirgantaraan memegang peranan kunci dalam mengurai kendala konektivitas antardaerah di Nusantara.
“Untuk mewujudkan konektivitas, bukan mengenai jarak, tetapi bagaimana semua urat nadi wilayah, terutama ekonomi, dapat terhubung. Teknologi kedirgantaraan mampu menembus ruang dan jarak dengan cepat dan strategis,” ujar Sungkono.
Sungkono pun menggarisbawahi bahwa ukuran keberhasilan penerapan suatu teknologi tidak sekadar ditentukan oleh tingkat kecanggihannya, melainkan oleh besarnya dampak positif yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
(Sumber: Antara)
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara memberikan kuliah umum mengenai peran teknologi kedirgantaraan dalam transformasi kawasan transmigrasi di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Jakarta. (Antara)