Ntvnews.id, Jakarta - Ada masa ketika lahan seluas 10 hektare di Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, hanya dikenal sebagai tanah yang tandus. Ketika hujan datang, ancaman longsor mengintai. Saat kemarau tiba, potensi kebakaran hutan menjadi persoalan yang tidak sederhana.
Kini, lanskap itu perlahan berubah.
Puluhan ribu pohon nanas tumbuh di atas tanah yang sebelumnya sulit diandalkan. Warga tidak hanya menanam, tetapi mulai mengolah hasil panen menjadi berbagai produk bernilai tambah. Ada keripik, sirup, sambal asin, selai hingga permen toffee. Dari lahan yang sebelumnya tidak banyak memberikan pilihan ekonomi, muncul aktivitas pertanian, pengolahan produk, hingga pemasaran.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan program PONDATA (Pineapple Pathways for Sustainability) yang dikembangkan PT Vale Indonesia Tbk bersama masyarakat.
Bagi Gilda, salah satu anggota Kelompok Pengelola Produk Turunan Nenas Binaan PT Vale, perubahan itu bukan sekadar cerita tentang tanaman yang tumbuh lebih subur. Ada kehidupan yang ikut bergerak di belakangnya.
“Kami dulu tidak punya apa-apa. Sekarang, bukan hanya tanah yang berubah, tapi hidup kami juga. Kami bisa menanam, menjual, bahkan belajar mengelola hasil panen. Ini bukan sekadar proyek, tapi harapan yang nyata,” ujar Gilda.
Di titik inilah cerita mengenai pertambangan berkelanjutan menjadi lebih dekat dengan manusia. Ia tidak berhenti pada angka produksi, teknologi pengolahan, atau target penurunan emisi. Keberlanjutan juga berbicara tentang apa yang tersisa ketika aktivitas pertambangan berlangsung dan bagaimana masyarakat di sekitarnya memiliki kemampuan untuk membangun kehidupan setelahnya.
Bagi PT Vale Indonesia, transformasi semacam itu menjadi bagian dari upaya menyatukan pertumbuhan bisnis dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Specialist Environment Sustainability PT Vale Indonesia, Rizki Pratiwi, mengatakan arah transformasi perusahaan dibangun dengan menjaga keseimbangan antara kepentingan manusia, lingkungan, dan bisnis.
“Jadi kita ingin bertumbuh dengan cara yang berkelanjutan. Bagaimana menjaga keseimbangan antara people, planet, dan profit,” kata Rizki.
Ketika Tambang Harus Berubah
Ilustrasi - PT Vale Indonesia mendatangkan autoclave yakni peralatan pengolahan nikel berkarbon rendah di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. (Antara)
Industri pertambangan berada di tengah persimpangan besar. Di satu sisi, dunia membutuhkan mineral untuk menopang transisi energi, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan berbagai teknologi rendah karbon. Di sisi lain, proses mendapatkan mineral tersebut tetap membawa konsekuensi terhadap lingkungan apabila tidak dikelola secara bertanggung jawab.
Nikel menjadi salah satu mineral penting dalam perubahan tersebut.
Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar dan berupaya meningkatkan nilai tambah mineral melalui hilirisasi. Namun, hilirisasi tidak cukup hanya dengan memindahkan proses pengolahan dari luar negeri ke dalam negeri. Tantangan berikutnya adalah bagaimana proses tersebut dilakukan dengan jejak lingkungan yang semakin kecil.
Di sinilah inovasi menjadi penting.
Selama lebih dari lima dekade beroperasi di Indonesia, PT Vale menjalankan kegiatan pertambangan di Sorowako serta mengembangkan proyek di Bahodopi dan Pomalaa. Pertumbuhan bisnis berjalan bersamaan dengan pengembangan teknologi dan berbagai program lingkungan.
Rizki menyebut perusahaan tetap mengembangkan sejumlah proyek meski industri pertambangan menghadapi berbagai tantangan.
Baca Juga: Hilirisasi Grup MIND ID, Transformasi Sektor Pertambangan
“Dalam kondisi isu-isu besar, beberapa perusahaan tambang justru tutup. PT Vale justru melakukan ekspansi terhadap proyek-proyeknya. Kita ada proyek di NGP Sorowako Limonite, kita ada Morowali, dan kita ada Pomalaa, termasuk IGP. Ke depannya kita akan terus melakukan pengembangan,” ujarnya.
Ekspansi tersebut sekaligus membawa pertanyaan yang lebih besar: bagaimana memastikan pertumbuhan industri mineral tidak mengorbankan lingkungan yang menjadi tempat industri itu tumbuh?
Jawabannya tidak hanya berupa slogan tentang keberlanjutan, tetapi harus hadir dalam sistem kerja, teknologi, dan investasi.
Air yang Harus Kembali Jernih
Teknologi PT VALE
Salah satu tantangan terbesar dalam kegiatan pertambangan adalah air.
Hujan yang turun di wilayah tambang membawa material dari permukaan lahan. Tanpa pengelolaan yang baik, air tersebut dapat membawa sedimen menuju badan air di sekitar wilayah operasi.
PT Vale mengembangkan lebih dari 100 sediment pond atau kolam pengendapan untuk mengelola air sebelum dialirkan keluar dari wilayah operasional.
Air tersebut tidak langsung dilepas begitu saja. Ada proses pengolahan untuk memastikan kualitasnya memenuhi baku mutu.
“Kita melakukan treatment air. Kemudian ketika air tersebut keluar ke danau, hasilnya menjadi jernih,” ujarnya.
Teknologi tersebut mungkin terdengar sederhana ketika hanya disebut sebagai kolam pengendapan. Namun, di baliknya terdapat sistem pengelolaan lingkungan yang harus bekerja secara konsisten setiap hari.
Bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan operasi, persoalan air bukan sekadar parameter teknis. Air adalah bagian dari kehidupan.
Karena itu, keberhasilan pengelolaan lingkungan pada akhirnya dapat dilihat dari kemampuan industri menjaga hubungan dengan ekosistem di sekitarnya.
PT Vale juga menjalankan reklamasi progresif, rehabilitasi dan konservasi di luar wilayah operasional. Program tersebut mencakup 30 kabupaten di lima provinsi dengan luas sekitar 17.000 hektare.
Dari Truk Tua Menjadi Lebih Efisien
Inovasi hijau juga tidak selalu berarti membeli peralatan baru.
Salah satu contoh datang dari program Zero Hour Refurbished Truck. Melalui program tersebut, dua unit truk tambang berkapasitas 100 ton, yakni CAT 777 dan Komatsu HD 785, direkondisi hingga kembali seperti baru.
Kedua kendaraan sebelumnya telah digunakan dalam aktivitas pertambangan dengan jam kerja yang sangat tinggi. Melalui proses rebuild, komponen-komponen penting diperbarui dan usia operasionalnya dikembalikan ke titik awal.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi hijau dapat dimulai dari cara baru dalam memandang aset lama.
Alih-alih langsung mengganti kendaraan, rekondisi menjadi pilihan untuk memperpanjang masa pakai sekaligus mengurangi kebutuhan sumber daya baru.
Program yang dilakukan bersama PT Trakindo Utama dan PT United Tractors itu disebut mampu menurunkan emisi karbon hingga 30 persen atau sekitar 174 ton karbon per unit.
Angka tersebut menjadi penting karena memperlihatkan satu hal: efisiensi operasional dan pengurangan dampak lingkungan tidak harus ditempatkan sebagai dua tujuan yang bertentangan.
Justru, keduanya bisa berjalan bersama.
Dalam industri yang menggunakan alat berat dalam jumlah besar, keputusan untuk memperpanjang usia peralatan melalui teknologi rekondisi dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi sirkular.
Pertambangan tidak lagi semata-mata mengambil sumber daya, menggunakan alat, lalu membuangnya ketika tidak lagi produktif. Ada upaya memperpanjang siklus hidup material dan peralatan.
Ketika Limbah Menjadi Material Bernilai
PT Vale Indonesia Tbk
Gagasan ekonomi sirkular juga terlihat dalam pengelolaan slag nikel.
Slag merupakan material hasil proses smelting yang jumlahnya dapat mencapai hingga 100 persen dari total bijih yang diproses. Selama ini, material seperti itu sering dipandang sebagai residu yang harus dikelola.
Namun, penelitian dan kolaborasi membuka kemungkinan berbeda.
PT Vale mengembangkan pemanfaatan slag sebagai material pendukung kegiatan pertambangan, konstruksi, serta material sipil seperti concrete dan paving block.
Perubahan cara pandang tersebut penting. Limbah tidak selalu harus berakhir sebagai beban. Dengan penelitian dan teknologi yang tepat, sebagian material dapat dikembalikan ke dalam rantai pemanfaatan.
Konsep inilah yang kemudian mengantarkan PT Vale meraih penghargaan Green Leadership dalam Asia Responsible Enterprise Awards 2025, selain penghargaan Social Empowerment.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa agenda lingkungan dan sosial dapat berjalan dalam satu kerangka yang sama.
Tetapi penghargaan bukanlah tujuan akhir.
Yang jauh lebih penting adalah apakah inovasi itu dapat terus bekerja dalam skala yang lebih besar dan memberikan dampak yang konsisten.
Menuju Nikel dengan Jejak Karbon Lebih Rendah
Tantangan terbesar berikutnya adalah emisi.
PT Vale menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk operasi Sorowako dengan target menurunkan emisi gas rumah kaca absolut Cakupan 1 dan Cakupan 2 sebesar 33 persen pada 2030 dibandingkan baseline 2017.
Operasi Sorowako memiliki satu keunggulan penting. Sebagian besar kebutuhan listriknya dipasok dari pembangkit listrik tenaga air yang dimiliki perusahaan.
Namun, perjalanan menuju operasi rendah karbon tidak berhenti pada sumber listrik.
PT Vale juga mengembangkan berbagai inisiatif yang mencakup elektrifikasi, optimasi proses, pemulihan energi, serta peningkatan efisiensi operasional.
Sementara untuk IGP Morowali dan Pomalaa, peta jalan dekarbonisasi masih terus dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik operasi, kebutuhan energi dan pilihan teknologi rendah karbon di masing-masing lokasi.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena proyek-proyek hilirisasi nikel membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Artinya, semakin besar kapasitas pengolahan, semakin besar pula tantangan untuk memastikan energi yang digunakan tidak menghasilkan jejak karbon yang berlebihan.
Karena itu, hilirisasi dan keberlanjutan tidak semestinya dipisahkan.
Hilirisasi memberikan nilai tambah ekonomi. Inovasi hijau memastikan nilai tambah tersebut tidak dibayar terlalu mahal oleh lingkungan.
Membayangkan Pabrik Nikel Net-Zero
Arah tersebut juga terlihat dalam rencana pengembangan proyek HPAL bersama GEM Co., Ltd. di Sulawesi Tengah.
Proyek senilai US$1,4 miliar itu dirancang menggunakan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) dan ditargetkan menjadi fasilitas pengolahan nikel net-zero dengan kapasitas produksi sedikitnya 60.000 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) setiap tahun.
MHP merupakan salah satu bahan penting untuk pembuatan baterai, termasuk sistem penyimpanan energi.
Namun, proyek tersebut tidak hanya berbicara mengenai kapasitas produksi.
Di dalam investasinya terdapat rencana pembangunan pusat penelitian dan pengembangan senilai US$40 juta untuk mendukung transfer pengetahuan dan pengembangan talenta lokal. Ada pula alokasi US$30 juta untuk ESG Compound dan US$10 juta untuk pembangunan masyarakat serta fasilitas umum.
CEO PT Vale Indonesia Febriany Eddy menempatkan proyek tersebut sebagai bagian dari upaya membangun standar baru produksi bahan baku baterai yang lebih berkelanjutan.
“Visi kami untuk Proyek HPAL ini adalah menetapkan standar global baru dalam produksi MHP berkelanjutan,” kata Febriany Eddy. “Proyek ini bukan hanya sekedar produksi MHP melainkan sebagai model pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab yang bermanfaat bagi Indonesia dan dunia. Dengan mengintegrasikan teknologi canggih, praktik ramah lingkungan, dan komitmen terhadap produksi net-zero, kami membentuk masa depan di mana Indonesia diakui sebagai pemimpin dalam pengembangan industri berkelanjutan.”
Di titik tersebut, hilirisasi mendapat makna yang lebih luas. Bukan hanya mengolah bijih nikel menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, tetapi juga membangun kemampuan manusia, teknologi, penelitian, dan sistem pengelolaan lingkungan di dalam negeri.
Teknologi Harus Berujung pada Manusia
Pada akhirnya, ukuran keberlanjutan sebuah industri tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya.
Ada manusia yang hidup di sekelilingnya.
Karena itu, PT Vale mengembangkan program pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan UMKM dan penguatan komunitas.
Di Sorowako, sekitar 104 UMKM telah mendapatkan pendampingan. Program tersebut juga dikembangkan di Morowali dan Pomalaa.
Pendampingannya bukan sekadar memberikan bantuan modal. Pelaku usaha didorong menyusun business plan, mengelola keuangan, memperbaiki produk hingga memikirkan regenerasi usaha dengan melibatkan generasi muda.
“Targetnya bukan jumlah, tetapi kualitas. Kami berharap ada UMKM yang naik kelas,” ujar Rizki.
Pendekatan serupa terlihat dalam PONDATA.
Sebanyak 105 warga menjadi bagian dari kelompok pengelola program tersebut. Selain menanam 26.000 pohon nanas, program itu memperbaiki pH tanah dari 3 menjadi 6,5 dan menurunkan kasus kebakaran hutan menjadi nol sejak pertengahan 2023.
Sebanyak lima produk olahan dikembangkan dari hasil panen. Masyarakat juga mulai terhubung dengan dinas koperasi, dinas pertanian dan potensi wisata lokal.
Sebagian warga yang sebelumnya bekerja serabutan bahkan kini terlibat dalam pengelolaan logistik produk.
“Saya dulu hanya bantu orang panen, kadang kerja kadang tidak. Sekarang saya bisa bantu mengelola pengiriman produk, bahkan kami mulai belajar cara pemasaran digital. Rasanya, kami punya masa depan," jelasnya.
Kalimat terakhir itu mungkin menjadi salah satu ukuran paling sederhana mengenai keberhasilan pemberdayaan.
Bukan berapa banyak program yang dibuat, melainkan apakah setelah program berjalan masyarakat merasa memiliki masa depan.
Menjaga Danau, Menjaga Ingatan
PT Vale dan Bumi: Menggali, Menjaga, Menghidupi (PT Vale/NTVnews)
Di Sorowako, keberlanjutan juga bersentuhan dengan Danau Matano.
Danau purba yang menjadi bagian penting ekosistem kawasan tersebut tidak hanya memiliki nilai ekologis. Bagi masyarakat sekitar, danau juga merupakan bagian dari ruang hidup.
Pada Oktober 2025, PT Vale bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, organisasi masyarakat, pelajar dan kelompok pemuda menggelar gerakan “Bersih Itu Keren: Pemuda Ambil Peran Jaga Danau”.
Kegiatan tersebut mengajak generasi muda membersihkan kawasan tepian danau sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu perusahaan atau satu lembaga pemerintah.
Sainab Husain Paragay, Senior Coordinator PTPM Livelihood Social Development PTVI, mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan sampah dan konservasi danau. Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami untuk bekerja bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan Danau Matano.”
Upaya tersebut juga diperkuat melalui program bank sampah di Sorowako, Wawondula dan Wasuponda. Selama periode pelaporan, material yang disalurkan mencakup 3,38 ton botol plastik, 0,96 ton kaleng aluminium dan 1,15 ton botol kaca.
Sekitar 126,97 ton limbah kayu juga dimanfaatkan kembali. Sementara 24,65 ton ban bekas digunakan untuk membantu penguatan lereng di area agroforestri nanas dan diolah menjadi sekitar 100 pot tanaman untuk masyarakat.
Semua itu memperlihatkan bahwa inovasi hijau tidak selalu berbentuk teknologi yang terlihat rumit.
Kadang, inovasi adalah menemukan cara agar sesuatu yang sebelumnya dibuang dapat digunakan kembali.
Kadang, inovasi adalah memperpanjang umur sebuah truk.
Kadang, inovasi adalah memastikan air yang keluar dari kawasan tambang kembali jernih.
Dan kadang, inovasi adalah mengubah tanah tandus menjadi kebun yang membuat seseorang berani berkata bahwa ia kini memiliki masa depan.
Investasi Lingkungan Bukan Sekadar Angka
Komitmen tersebut juga tercermin dalam investasi lingkungan perusahaan.
Pada 2025, total biaya pengelolaan lingkungan PT Vale mencapai US$43,8 juta, meningkat dari US$28,4 juta pada 2024.
Sebagian besar dialokasikan di Sorowako, yakni US$33,8 juta. Sementara di IGP Pomalaa, biaya pengelolaan lingkungan meningkat menjadi US$9,5 juta, terutama untuk pembangunan infrastruktur lingkungan, termasuk sediment pond.
Di balik angka tersebut terdapat pekerjaan yang tidak selalu terlihat dari luar: pemantauan kualitas air, pengendalian emisi udara, pengelolaan limbah, perlindungan keanekaragaman hayati, reklamasi, hingga pemenuhan kewajiban lingkungan.
PT Vale juga melatih 2.304 orang pada 2025 dalam program pelatihan lingkungan. Jumlah tersebut terdiri dari 338 karyawan dan 1.966 kontraktor. Sebanyak 66 orang memperoleh sertifikasi profesional terkait pengelolaan lingkungan.
Artinya, teknologi saja tidak cukup.
Sistem terbaik sekalipun membutuhkan manusia yang memahami cara mengoperasikan, mengawasi dan mempertanggungjawabkannya.
Menambang Masa Depan
Perjalanan PT Vale menunjukkan bahwa transformasi industri pertambangan tidak berlangsung dalam satu lompatan.
Ia tersusun dari banyak keputusan kecil dan besar: bagaimana mengelola air, bagaimana memperpanjang usia alat berat, bagaimana menggunakan kembali material, bagaimana menanam kembali lahan, bagaimana menurunkan emisi, bagaimana membangun teknologi pengolahan, dan bagaimana memastikan masyarakat di sekitar tambang ikut tumbuh.
Pada saat yang sama, tantangannya juga tidak ringan.
Semakin besar industri hilirisasi berkembang, semakin besar kebutuhan energi dan semakin kompleks pula pengelolaan lingkungannya. Karena itu, keberlanjutan bukan sebuah label yang sekali ditempel kemudian selesai.
Ia harus dibuktikan dari waktu ke waktu.
Head of External Relations Vale Indonesia Endra Kusuma menyebut keberlanjutan pada akhirnya berkaitan dengan cara perusahaan melihat tanggung jawabnya terhadap masa depan.
"Semakin besar kapasitas yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk melayani hari ini dan membangun masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Kalimat itu menemukan maknanya ketika melihat kembali Tabarano.
Sepuluh hektare lahan yang dulu tandus kini menjadi hamparan tanaman nanas. Ada 26.000 pohon yang tumbuh, 105 warga yang terlibat, produk yang mulai dipasarkan, dan masyarakat yang belajar mengelola usaha.
Di tempat lain, air tambang melewati kolam pengendapan sebelum kembali ke lingkungan. Truk yang telah bekerja puluhan ribu jam diperpanjang masa hidupnya. Material sisa smelting diteliti agar dapat digunakan kembali. Dan di Sorowako, generasi muda diajak menjaga Danau Matano.
Semua itu mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan industri pertambangan.
Namun, ia menunjukkan arah.
Bahwa penciptaan nilai tambah tidak harus berhenti pada nilai ekonomi dari mineral yang keluar dari perut bumi. Nilai tambah juga dapat berarti pengetahuan yang tinggal di Indonesia, teknologi yang berkembang di dalam negeri, masyarakat yang semakin mandiri, lingkungan yang lebih terjaga, dan lahan yang tetap memiliki kehidupan setelah aktivitas tambang berakhir.
Di tengah tuntutan dunia terhadap mineral untuk transisi energi, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian penting dari perubahan tersebut.
Tetapi kesempatan itu datang bersama tanggung jawab.
Nikel yang dibutuhkan untuk membangun masa depan energi bersih seharusnya juga diproduksi dengan cara yang semakin bersih.
Sebab, tidak akan banyak arti sebuah teknologi hijau jika proses untuk mendapatkannya justru meninggalkan kerusakan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, pertambangan berkelanjutan bukan tentang memilih antara bisnis dan lingkungan.
Ia tentang bagaimana keduanya dapat tumbuh bersama dengan teknologi sebagai alat, manusia sebagai penggerak, dan keberlanjutan sebagai tujuan.
Dan mungkin, ukuran keberhasilannya sederhana: ketika sebuah lahan yang pernah tandus bisa kembali menghasilkan kehidupan, ketika masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton, dan ketika mineral dari Indonesia dapat menjadi bagian dari masa depan energi dunia tanpa mengorbankan masa depan bumi.
PT Vale dan Bumi: Menggali, Menjaga, Menghidupi (PT Vale/NTVnews)