Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Selasa29 September 2026.
Adapun rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.997 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan dolar AS seiring ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat," ucap Lukman kepada Ntvnews.id, Selasa 29 September 2026.
Baca juga: Rupiah Awal Pekan Dibuka Melemah Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS
Menurut dia, pelaku pasar juga cenderung berhati-hati pada pekan ini karena terdapat sejumlah rilis data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
Investor, lanjut Lukman, kini menantikan rilis data lowongan pekerjaan Amerika Serikat melalui Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada Selasa malam.
“Investor juga cenderung berhati-hati dalam pekan yang padat data ekonomi penting, dengan traders menantikan rilis data pekerjaan AS JOLTS malam ini,” katanya.
Sementara itu Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pekan ini berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Pekan Depan Diproyeksi Sentuh Rp18 Ribu per Dolar AS
"Untuk perdagangan pekan depan di range Rp17.800-Rp18.100," ungkap Ibrahim.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
BI Tak Perlu Menaikkan Suku Bunga
Ilustrasi - Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah saat melakukan persiapan pengisian ATM. (Antara)
Sementara itu, sebelumnya Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Bank Indonesia (BI) tidak perlu menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Menurut dia, keputusan BI mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah dapat ditempuh melalui instrumen yang lebih spesifik, terutama untuk mengelola risiko nilai tukar.
Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (Antara)