Rupiah Selasa Dibuka Melemah Nyaris Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Sep 2026, 10:43
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Selasa29 September 2026.

Adapun rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.997 per dolar AS.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan dolar AS seiring ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat," ucap Lukman kepada Ntvnews.id, Selasa 29 September 2026.

Baca juga: Rupiah Awal Pekan Dibuka Melemah Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS

Menurut dia, pelaku pasar juga cenderung berhati-hati pada pekan ini karena terdapat sejumlah rilis data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.

Investor, lanjut Lukman, kini menantikan rilis data lowongan pekerjaan Amerika Serikat melalui Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada Selasa malam.

“Investor juga cenderung berhati-hati dalam pekan yang padat data ekonomi penting, dengan traders menantikan rilis data pekerjaan AS JOLTS malam ini,” katanya.

Sementara itu Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pekan ini berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah Pekan Depan Diproyeksi Sentuh Rp18 Ribu per Dolar AS

"Untuk perdagangan pekan depan di range Rp17.800-Rp18.100," ungkap Ibrahim.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.

BI Tak Perlu Menaikkan Suku Bunga

Ilustrasi - Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah saat melakukan persiapan pengisian ATM. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah saat melakukan persiapan pengisian ATM. (Antara)

Sementara itu, sebelumnya Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Bank Indonesia (BI) tidak perlu menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Menurut dia, keputusan BI mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah dapat ditempuh melalui instrumen yang lebih spesifik, terutama untuk mengelola risiko nilai tukar.

 “Keputusan mempertahankan BI Rate menurut saya tepat. Tidak semua tekanan rupiah harus dibayar dengan bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Yang lebih menarik justru bagaimana BI memperluas instrumen stabilisasi di luar suku bunga,” ujar Fakhrul di Jakarta, Kamis.
 
Ia secara khusus menyoroti keputusan BI meningkatkan insentif pengurangan biaya hedging swap hingga 25 persen untuk tenor tertentu.
 
Kebijakan itu melanjutkan langkah BI sebelumnya dalam memberikan insentif untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.
 
Menurut dia, kebijakan tersebut menunjukkan perubahan dalam bauran kebijakan moneter, yakni penggunaan instrumen yang berbeda untuk menangani risiko yang berbeda.
 
“BI mulai memisahkan harga uang dari harga risiko valuta asing. BI Rate digunakan untuk menjaga kredibilitas inflasi dan stabilitas makro, sementara swap dan DNDF dapat digunakan lebih spesifik untuk mengurangi biaya risiko valuta asing dan menarik external funding," tuturnya.
 
Fakhrul menilai penurunan biaya hedging dapat membantu menarik kembali modal asing ketika ketidakpastian global membuat investor cenderung menunda investasinya.
 
Pendekatan tersebut memiliki kemiripan dengan kebijakan India yang menggunakan fasilitas FX swap untuk menarik pendanaan valuta asing.
 
Namun, Indonesia tidak perlu menerapkan insentif dengan skala yang sama dan sebaiknya menjalankannya secara bertahap.
 
“Saya justru lebih nyaman BI memulainya secara gradual. Dua puluh lima persen cukup untuk menguji respons pasar. Kalau inflow membaik, tidak ada alasan memberikan subsidi lebih besar dari yang diperlukan," ujarnya.
 
Menurut Fakhrul, efektivitas kebijakan tersebut nantinya dapat dilihat dari sejumlah indikator, antara lain arus modal asing, stabilitas rupiah, cadangan devisa, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN), serta kondisi likuiditas domestik. (ANTARA)
 
Pendekatan tersebut dapat memberikan ruang bagi BI untuk tidak merespons setiap kenaikan imbal hasil SBN global melalui kenaikan BI Rate.

x|close