BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Sempat Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Sep 2026, 15:27
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa 29 September 2026.

Adapun rupiah sempat berada di level Rp18.012 per dolar AS pada pukul 11.11 WIB. Posisi tersebut melemah 34 poin atau 0,19 persen.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global maupun domestik.

Erwin menjelaskan, tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal yang kembali meningkat.

Baca Juga: Rupiah Selasa Dibuka Melemah Nyaris Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS

Kondisi tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz," ucap Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa 29 September 2026.

Kenaikan harga minyak tersebut turut mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.

Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali meningkat hingga 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.

Tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang akhir kuartal III 2026. Selain itu, terjadi arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi.

Baca Juga: BI Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Penguatan Dolar AS

BI Terus Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah

ilustrasi uang rupiah <b>(dokumentasi beno junianto)</b> ilustrasi uang rupiah (dokumentasi beno junianto)

BI memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga agar mekanisme pasar berjalan dengan baik serta memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai dengan fundamental ekonomi.

Selain stabilisasi nilai tukar, BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang pro-market.

Efektivitas stabilisasi nilai tukar turut diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas. Salah satunya melalui peningkatan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada perbankan dalam rangka pendanaan luar negeri.

Erwin menegaskan, intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui berbagai instrumen.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," katanya.

BI juga menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan perkembangan mata uang di kawasan. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah secara terbatas sebesar 0,67 persen.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia masih menunjukkan penguatan.

"Cadangan devisa tercatat meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," tandasnya.

x|close