Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menargetkan proses negosiasi penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) atau Whoosh dengan pihak China dapat dituntaskan pada kuartal I 2026.
Saat ini, Danantara masih berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait jadwal keberangkatan ke China untuk menjalani proses perundingan tersebut.
“Nanti kita tunggu Pak Menko (ke China), tapi nggak usah khawatir. Insya Allah kuartal satu selesai (negosiasi KCIC),” ujar Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, saat diwawancarai di sela acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Baca Juga: Perang Netizen Korsel vs ASEAN Meledak di X, Bermula dari Konser DAY6
Dony memastikan Danantara terus menjalin koordinasi dengan Kementerian Keuangan mengenai mekanisme penyelesaian utang Whoosh yang diperkirakan mencapai sekitar Rp1,2 triliun per tahun.
“Nanti, sedang didiskusikan dengan Kementerian Keuangan.Tapi, Insya Allah, mudah-mudahan, kan sudah selesai. Ya kan sudah disampaikan berkali-kali,” ujarnya.
Ia juga meminta publik tidak terlalu mengkhawatirkan persoalan utang proyek tersebut dan menegaskan bahwa proses penyelesaiannya dengan pihak China akan segera dilakukan.
“Yang dikhawatirkan apa? Masalahnya apa sebenarnya? Saya juga bingung. Masalahnya apa sih. Apa coba? Kan suka hobi nanya aja. Sebetulnya kan sudah selesai. Proses itu akan diselesaikan," ujar Dony.
Kepala BP BUMN Dony Oskaria (NTVnews)
Menurutnya, proyek kereta cepat Whoosh yang menghubungkan Jakarta dan Bandung telah memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Dia memberikan dampak ekonomi. Secara operasional mereka mampu untuk sustain. Masalahnya kan hanya di investasi kita yang kekecilan, sehingga utangnya menjadi besar waktu pembangunan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut belum ada pembahasan lanjutan dengan Istana Negara terkait penyelesaian utang proyek Whoosh.
“Nanti, saya belum dipanggil untuk masalah itu,” kata Purbaya.
Baca Juga: AHY Kunjungi IIMS 2026, Soroti Lonjakan Kendaraan Listrik dan Transisi Elektrifikasi
Ia menjelaskan bahwa skema restrukturisasi keuangan KCIC masih menggunakan pembagian beban 50:50, sehingga tidak seluruh utang ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, pemerintah akan memastikan kelanjutan pembahasan setelah ada pemanggilan resmi dari Istana.
“Seingat saya sih masih 50:50, belum diajak ke sana,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan sumber pembayaran utang pembangunan Whoosh berasal dari APBN, dengan proses pembahasan yang masih dalam tahap finalisasi. Negosiasi teknis dipimpin oleh CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani.
Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan jajaran menteri untuk mencari skema terbaik dalam menyelesaikan persoalan utang kereta cepat Jakarta–Bandung, termasuk perhitungan angka dan berbagai skenario penyelesaian yang paling optimal bagi pemerintah.
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis, 12 Februari 2026. (Istimewa)