Ntvnews.id, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 6 Maret 2026 bergerak melemah, seiring konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) menyebabkan ketidakpastian arah suku bunga acuan The Fed.
IHSG dibuka melemah 11,07 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.699,47.
Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,61 poin atau 0,20 persen ke posisi 786,21.
"Kiwoom Research perkirakan technical rebound yang terjadi kemarin tidak akan berumur panjang, secara teknikal persis di gerbang resistance kritikal 7.712-7.720. Para investor disarankan untuk masih perbesar posisi cash di penghujung pekan ini untuk antisipasi high volatility during weekend," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya.
Baca juga: IHSG Kamis Pagi Ini Menguat 1,56 Persen ke Level 7.695
Dari mancanegara, eskalasi konflik antara Iran dengan AS dan Israel telah memasuki hari ke enam, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi energi dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed.
Terdekat, bank sentral AS tersebut akan menyelenggarakan pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret 2026, untuk menentukan kebijakan suku bunga acuannya.
"Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 bps sepanjang 2026, turun dari sekitar 50 bps sebelum konflik dimulai," ujar Liza.
Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel, sementara jet tempur AS dan Israel terus menyerang sejumlah target di Iran.
Serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk serta drone Iran yang memasuki wilayah Azerbaijan meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara produsen energi lain.
Presiden Donald Trump juga menyatakan AS ingin memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.
Sementara itu, IMF memperingatkan konflik ini berpotensi menguji ketahanan ekonomi global dan dapat memicu tekanan inflasi serta perlambatan pertumbuhan jika berlangsung lama.
Harga minyak melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, Brent naik 4,93 persen ke 85,41 dolar AS per barel, sementara US WTI melonjak 8,51 persen ke 81,01 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, perlambatan ekonomi China seperti disebutkan pada forum Two Sessions berpotensi menekan ekonomi Indonesia karena China merupakan mitra dagang terbesar dengan porsi sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 senilai sekitar 64,82 miliar dolar AS.
Dengan demikian, penurunan aktivitas industri China dapat mengurangi permintaan komoditas dan bahan baku dari Indonesia.
Baca juga: IHSG Sesi I Ditutup Ambruk 4,32 Persen ke 7.596
Selain perdagangan, dampaknya juga berpotensi muncul pada investasi karena China merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dengan realisasi sekitar 7,5 miliar dolar AS pada 2025, dan secara historis setiap perlambatan 1 persen ekonomi China dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.
Pada perdagangan Kamis (05/03), bursa saham Eropa kompak melemah, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,46 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,45 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,61 persen, serta indeks CAC melemah 1,49 persen.
Bursa saham AS di Wall Street juga kompak melemah pada Kamis (05/03), diantaranya indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,61 persen ke 47.954,74, indeks S&P 500 melemah 0,56 persen ke 6.830,71, sementara Nasdaq Composite turun 0,26 persen ke 22.748,99.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 80,59 poin atau 0,15 persen ke 55.358,69, indeks Hang Seng menguat 263,59 poin atau 1,04 persen ke posisi 25.58493 indeks Shanghai menguat 0,33 poin atau 0,01 persen ke 4.108,90, sedangkan indeks Strait Times melemah 17,90 poin atau 0,37 persen ke 4.828,66. (Sumber:Antara)
Seorang pekerja melihat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat, 28 Juni 2024. (ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/tom)