Airlangga: Hilirisasi Jadi Kekuatan Utama Daya Saing Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 17:35
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
(Kiri ke kanan) Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan I 2026 dan Implementasi KBLI 2025? di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira/aa. (Kiri ke kanan) Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan I 2026 dan Implementasi KBLI 2025? di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira/aa. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia memiliki berbagai keunggulan dalam pengembangan proyek hilirisasi, terutama yang berbasis sumber daya alam (SDA) serta didukung kemudahan investasi.

“Indonesia mempunyai keuntungan comparative. Negara lain tidak punya bahan bakunya, jadi downstreaming itu menunjukkan comparative advantage dan competitiveness Indonesia, sehingga ini adalah kekuatan dari Indonesia ke depan,” kata Airlangga.

Dalam konferensi pers di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, Jakarta, Kamis, 23 April 2026, ia menjelaskan bahwa struktur biaya investasi di Indonesia relatif lebih kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Keunggulan tersebut juga didukung oleh keberagaman sumber energi yang dimiliki Indonesia, baik energi fosil maupun energi baru terbarukan (EBT), yang memberikan fleksibilitas bagi industri dalam menekan biaya produksi.

Baca Juga:Rosan Roeslani: EBT hingga Waste to Energy Jadi Sektor Potensial Investasi 2026

Namun demikian, Airlangga menekankan pentingnya penguatan konektivitas jaringan listrik antarpulau, khususnya untuk mengintegrasikan kelebihan pasokan listrik di Pulau Jawa dengan kebutuhan energi di Pulau Sumatera.

“Kita punya kombinasi antara renewable dan non-renewable. Kita tinggal menambah competitiveness kita dengan membangun jaringan listrik Sumatera-Jawa. Hari ini Jawa excess, tapi 3-4 tahun lagi demand akan mengambil, menyedot kelebihan ini sehingga connectivity Jawa-Sumatera jadi penting,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di wilayah Aceh dan Sumatera Barat yang saat ini masih berada dalam tahap pipeline, namun dinilai strategis jika terhubung dengan pusat permintaan listrik di Jawa.

“Beberapa geothermal project kita terus on the pipeline, termasuk yang ada di Sumatera Barat maupun Aceh. Kalau demand jadi connect dengan demand side di Jawa, ini akan semakin baik,” kata dia.

Baca Juga: Realisasi Investasi Hilirisasi Capai Rp 147,5 T di Triwulan I 2026, Tumbuh 8,2%

Selain aspek teknis, Airlangga juga menekankan adanya peluang pendanaan internasional untuk proyek energi dan hilirisasi di Indonesia.

Salah satunya berasal dari Jepang melalui forum Asia Zero Emission Committee (AZEC) yang menyediakan pendanaan sekitar 10 miliar dolar AS.

“Dari segi investasi untuk renewable, kemarin Jepang selaku pimpinan dari Asia Zero Emission Committee, itu menyediakan dana tambahan untuk krisis energi sekarang untuk investasi sebesar 10 billion USD,” kata Airlangga.

“Artinya, selain kita punya demand, punya bahan baku, punya kemampuan untuk renewable energy, pendanaan global itu juga tersedia. Jadi seluruhnya tergantung kepada para pengusaha di Indonesia untuk bisa memanfaatkan apa yang sudah disediakan,” ujarnya menambahkan.

(Sumber: Antara)

 

x|close