Denyut Sejarah dan Marwah Kedatuan Luwu yang Masih Dilestarikan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Mei 2026, 17:54
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Istana Kedatuan Luwu di pusat kota Palopo, Sulawesi Selatan Istana Kedatuan Luwu di pusat kota Palopo, Sulawesi Selatan (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Di jantung Kota Palopo, berdiri sebuah bangunan kokoh bercat putih yang seolah menjadi potret ketenangan di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Dikelilingi halaman luas yang asri, gedung bergaya kolonial itu bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah Istana Kedatuan Luwu, atau yang akrab disapa Langkanae, sebuah simbol hidup dari peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang masih menjaga marwahnya hingga hari ini.

Langkanae yang berdiri saat ini menyimpan kisah pahit manis perjuangan. Dibangun pada tahun 1920, arsitektur Eropa yang melekat pada bangunan ini merupakan jejak nyata pengaruh Hindia Belanda. 

Juru Bicara Istana Kedatuan Luwu, Andi Abdullah Sanad Kaddiraja, mengungkapkan bahwa bangunan permanen ini didirikan setelah masa kepemimpinan Datu Luwu Andi Kambo. Kala itu, situasi politik memaksa sang raja menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) pada 1907.

Istana Kedatuan Luwu di Palopo, Sulawesi Selatan <b>(NTVNews)</b> Istana Kedatuan Luwu di Palopo, Sulawesi Selatan (NTVNews)

"Ini adalah tempat yang dibangun oleh kolonialisme Belanda setelah rajanya, Andi Kambo, mengakui pemerintah Belanda. Langkah itu diambil demi melindungi rakyat Luwu dari ancaman penghancuran total oleh militer Belanda," tutur Andi Abdullah saat ditemui di Istana Luwu Raya pada 22 Mei 2026.

Sebelum bangunan permanen ini berdiri, istana Luwu merupakan rumah panggung kayu tradisional yang megah. Sayangnya, versi sejarah menyebutkan istana lama tersebut hangus terbakar sebelum akhirnya digantikan oleh bangunan batu bergaya Eropa yang kita lihat sekarang.

Kedatuan Luwu bukanlah kerajaan sembarangan. Ia dianggap sebagai tanah leluhur orang Bugis dan menjadi latar utama dalam I La Galigo, mahakarya sastra terpanjang di dunia. Meliputi wilayah yang kini dikenal sebagai Luwu Raya (Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Kota Palopo), kedatuan ini pernah menjadi pusat politik, budaya, serta episentrum penyebaran Islam di wilayah timur Sulawesi Selatan sejak abad ke-16.

Meski zaman telah berganti menjadi sistem pemerintahan modern, napas adat di Luwu tidak pernah mati. Hingga kini, Ade Asera atau Dewan Adat Sembilan tetap eksis menjalankan peran sosialnya.

"Secara sosial kami masih sangat aktif. Perangkat adat kami tetap menganut aturan Ade Asera, meskipun kami tidak mencampuri urusan pelaksanaan pemerintahan formal," tambah Andi Abdullah.

Saat ini, takhta Kedatuan Luwu diemban oleh Sri Paduka Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. Dinobatkan pada Desember 2012, ia melanjutkan estafet kepemimpinan sang kakak, mendiang Andi Luwu Opu Daengna Patiware.

Di bawah kepemimpinannya, Langkanae tetap menjadi magnet budaya. Di dalam istana, pengunjung masih bisa melihat berbagai benda pusaka, foto-foto dokumenter para Datu, hingga ornamen khas Luwu seperti simbol Pajung(payung kebesaran) yang tetap dipertahankan meski dibalut dinding bergaya Eropa.

Keberadaan Kedatuan Luwu juga menjadi mitra strategis bagi instansi pemerintah di Palopo. Kepala Kantor Imigrasi Palopo, Yogie Kashogi, mengakui betapa pentingnya menjaga koordinasi dengan pihak istana.

"Kami membawahi wilayah Luwu Raya, jadi koordinasi dengan Kedatuan adalah hal yang krusial. Kami sering bertemu dengan Datu Luwu dalam berbagai kesempatan, termasuk saat peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu," ujar Yogie.

Langkanae adalah pengingat bahwa Luwu bukan hanya sekadar catatan di buku sejarah atau penggalan bait I La Galigo. Ia adalah identitas masyarakat yang masih berdenyut. Di tengah deru pembangunan Kota Palopo, bangunan putih itu tetap berdiri tegak—menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan penghormatan pada leluhur yang tak boleh luntur.

Bagi siapa pun yang melangkah masuk ke halamannya, Langkanae menawarkan lebih dari sekadar pemandangan bangunan tua ia menawarkan perjalanan spiritual menuju akar jati diri masyarakat Sulawesi Selatan.

x|close