Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah gemuruh musik dan sorak ribuan penonton yang memadati area festival Cherrypop 2026, ada satu stan yang sama pentingnya dari panggung utama dan menyimpan pesan penting tentang masa depan bumi. Di sanalah Prevented Ocean Plastic Southeast Asia atau POPSEA hadir sebagai mitra untuk mengajak anak muda berpikir ulang tentang sampah plastik yang mereka hasilkan, bahkan di tengah euforia menikmati musik favorit.
Cherrypop merupakan festival musik tahunan di Yogyakarta yang digagas oleh Swasembada Kreasi. Festival ini menjadi panggung bagi kreativitas subkultur anak muda. Dari musisi hingga pembuat film, dari perupa hingga pegiat kuliner, berbagai disiplin ilmu bertemu untuk berkreasi, berdialog, dan berbagi energi. Di tengah semaraknya festival yang mempertemukan beragam ekspresi seni tersebut, POPSEA hadir sebagai pengingat bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan juga merupakan bagian semangat anak muda masa kini.
Festival musik seperti Cherrypop memang identik dengan kegembiraan. Namun, di balik itu, ada satu masalah besar yang kerap luput dari perhatian, yaitu tumpukan sampah botol plastik. POPSEA, perusahaan yang bergerak di bidang pengumpulan dan daur ulang plastik pascakonsumsi, hadir untuk mengubah kebiasaan itu menjadi kesadaran kolektif.
Festival musik seperti Cherrypop memang identik dengan kegembiraan. Namun, di balik itu, ada satu masalah besar yang kerap luput dari perhatian, yaitu tumpukan sampah botol plastik. POPSEA, perusahaan yang bergerak di bidang pengumpulan dan daur ulang plastik pascakonsumsi, hadir untuk mengubah kebiasaan itu menjadi kesadaran kolektif. (pop)
"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Cherrypop 2026 dan berharap festival-festival musik lainnya juga memiliki mitra keberlanjutan seperti kami. Apalagi di festival seperti ini pasti banyak menimbulkan sampah botol plastik. Kehadiran kami menjadi sarana edukasi bahwa sampah plastik adalah tanggung jawab kita bersama," ujar Daniel Lawrence Angelo, CEO POPSEA, Sabtu 22 Agustus 2026 saat ditemui di sela-sel Cherrypop di kawasan Candi Prambanan.
POPSEA bukanlah pemain baru dalam industri daur ulang di Indonesia. Sebagai bagian dari inisiatif global Prevented Ocean Plastic yang berbasis di Inggris, perusahaan ini telah membangun jaringan fasilitas pengumpulan dan pemilahan plastik di 12 kota di seluruh Indonesia, mulai dari Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Serang, Sukabumi, Bantul, Semarang, Samarinda, hingga Makassar.
Dalam dua tahun terakhir, POPSEA telah berhasil mendaur ulang lebih dari 2 miliar botol plastik dan berkontribusi pada pengurangan lebih dari 297 juta kilogram emisi karbon. Material plastik yang terkumpul tidak hanya dikumpulkan saja, tetapi diolah menjadi bahan daur ulang berkualitas yang kemudian digunakan oleh berbagai merek global ternama.
Namun bagi Daniel, angka-angka itu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. "Selama ini masyarakat mungkin belum mendapatkan informasi yang cukup informatif tentang sampah plastik, mulai dari apa itu sampah plastik, mengapa penting dikelola, hingga menjadi apa hasil daur ulangnya. Kami hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan memberikan pemahaman yang nyata di lapangan," jelasnya.
Lantas, mengapa sebuah perusahaan daur ulang harus hadir di festival musik? Bukankah tempatnya di pabrik atau fasilitas daur ulang? Daniel menjawabnya dengan lugas. "Masyarakat mungkin bertanya, sampah plastik ini apa sih, fungsinya kenapa, hasilnya nanti jadi apa. Ini yang mungkin masyarakat kita masih sangat kurang informasi. Karena itu, kami tidak hanya aktif di sektor industri, tetapi juga di ruang-ruang publik tempat anak muda berkumpul." Cherrypop 2026 dipilih bukan tanpa alasan. Festival musik yang digagas oleh Swasembada Kreasi ini adalah ruang yang tepat untuk menjangkau generasi muda, mereka yang akan mewarisi bumi beberapa dekade ke depan. Di sinilah edukasi tentang ekonomi sirkular dan tanggung jawab lingkungan bisa disampaikan dengan cara yang tidak menggurui, tetapi tetap membekas, sejalan dengan semangat kolaborasi dan kreasi yang diusung oleh Cherrypop.
Di balik pengepakan sampah dan mesin daur ulang, ada denyut sosial yang menggerakkan POPSEA. Saat ini POPSEA tumbuh bersama 340 pekerja dan 1.669 waste heroes yang tersebar di jaringan mereka. Yang menarik, lebih dari 50% pekerja adalah perempuan yang memegang peran penting dalam kepemimpinan di POPSEA, sebuah bukti nyata bahwa ekonomi sirkular juga bisa menjadi ruang yang inklusif.
Dukungan juga datang dari berbagai mitra strategis. USAID, misalnya, terlibat dalam pengembangan dua fasilitas di Semarang dan Makassar. Danone-AQUA turut membangun fasilitas di Samarinda, sementara PF Concept memberikan dukungan berupa kendaraan operasional untuk kegiatan pengumpulan plastik di fasilitas POPSEA Jakarta Utara, Pekanbaru, dan Samarinda.
"Harapan terbesar kami adalah masyarakat semakin memahami bahwa tanggung jawab terhadap sampah plastik yang kita hasilkan bukanlah tanggung jawab pihak manapun, tetapi dimulai dari diri kita sendiri," tegas Daniel.
Kolaborasi dengan Cherrypop 2026 hanyalah awal. POPSEA memiliki ambisi lebih besar untuk menjangkau berbagai sektor dan acara lain di Indonesia. "Kami akan terus menjalin komunikasi dengan berbagai penyelenggara acara, tidak hanya festival musik, tetapi juga event-event lainnya. Kami ingin kolaborasi keberlanjutan seperti ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan besar di Indonesia," ujar Daniel.
Dengan langkah ini, POPSEA tidak hanya ingin dikenal sebagai perusahaan daur ulang, tetapi juga sebagai penggerak perubahan budaya, mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah botol plastik dari sesuatu yang tidak berharga dan tidak berguna, bisa menjadi bahan baku yang berharga dan diubah menjadi produk baru. Dan itu dimulai dari langkah kecil, seperti memilah sampah botol plastik setelah menikmati konser di Cherrypop 2026.
Festival musik seperti Cherrypop memang identik dengan kegembiraan. Namun, di balik itu, ada satu masalah besar yang kerap luput dari perhatian, yaitu tumpukan sampah botol plastik. POPSEA, perusahaan yang bergerak di bidang pengumpulan dan daur ulang plastik pascakonsumsi, hadir untuk mengubah kebiasaan itu menjadi kesadaran kolektif. (pop)