Bahaya dan Dampak Paparan Abu Vulkanik pada Kesehatan Kulit

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 18:50
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Warga menggunakan masker saat berolahraga pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Ilustrasi - Warga menggunakan masker saat berolahraga pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (6/9/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan kulit. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE, mengingatkan bahwa paparan material ini dapat memicu kulit kering, sensasi perih atau terbakar, rasa gatal, hingga timbulnya dermatitis iritan.

"Pada kebanyakan orang, kontak singkat dengan abu tidak menyebabkan masalah kulit yang berat," kata Arini saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (7/9).

Meski demikian, pakar kesehatan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) tersebut menekankan kewaspadaan ekstra bagi kelompok rentan. Pemilik kulit sensitif, penderita dermatitis atopik atau eksim, penderita rosacea, hingga mereka yang skin barrier-nya sedang terganggu pascatindakan estetika seperti laser atau peeling jauh lebih mudah mengalami iritasi.

Dokter lulusan Universitas Harvard ini menerangkan bahwa partikel abu vulkanik berbeda dari debu jalanan biasa. Material ini tersusun atas fragmen batuan dan mineral yang sangat halus, berpermukaan kasar, serta dapat membawa senyawa asam saat masih segar.
 

"Partikel abu juga dapat bersifat abrasif. Karena itu, yang perlu dihindari adalah menggosok atau mengusap abu yang masih kering di permukaan kulit karena gesekan tersebut justru dapat meningkatkan iritasi," ujar Arini.

Guna meminimalkan risiko, ia menyarankan agar penanganan kulit dilakukan sesegera mungkin setelah terpapar. Langkah awal yang perlu diambil adalah melepas pakaian yang tertutup abu, lalu membilas kulit dengan air bersih mengalir guna meluruhkan partikel tanpa memicu gesekan berlebih.

Saat mandi, warga diimbau menggunakan air sejuk atau suam-suam kuku serta sabun pembersih berformula lembut. Penggunaan scrub, spons kasar, maupun gerakan menggosok badan secara agresif sangat tidak dianjurkan. Setelahnya, keringkan tubuh dengan cara menepuk-nepuk kulit secara perlahan sebelum mengoleskan pelembap.

Apabila wajah menunjukkan tanda-tanda iritasi, Arini menyarankan untuk menghentikan sementara penggunaan bahan aktif yang berpotensi memicu sensitivitas tinggi, seperti retinoid, AHA/BHA, peeling, maupun scrub, hingga kondisi kulit stabil kembali.
 

Dalam skema pencegahan, perlindungan fisik dinilai jauh lebih krusial ketimbang penggunaan obat-obatan. Penggunaan pelembap sederhana tanpa pewangi yang mengandung ceramide, glycerin, atau bahan humektan dan emolien lainnya sangat disarankan untuk menjaga keutuhan benteng pertahanan kulit (skin barrier).

"Pelembap sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang bersih dan diberi waktu agar menyerap. Tidak perlu menggunakan antibiotik atau kortikosteroid sebagai pencegahan. Jika kemudian timbul dermatitis yang cukup berat, obat antiinflamasi topikal mungkin diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dokter," katanya.

Di akhir keterangannya, Arini meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Meskipun keluhan pada saluran pernapasan dan mata kerap menjadi prioritas utama saat bencana abu vulkanik, potensi iritasi pada kulit tetap perlu diantisipasi dengan mengurangi kontak langsung secara maksimal.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close