Ntvnews.id, Jakarta - Studi yang dilakukan peneliti Universitas Flinders dan diterbitkan dalam jurnal Nutrients menemukan adanya kaitan antara, konsumsi kopi dalam jumlah tinggi dengan kepadatan mineral tulang (BMD) yang lebih rendah pada wanita lanjut usia yang telah mengalami menopause.
Penelitian tersebut melibatkan 9.704 wanita berusia 65 tahun ke atas yang pola konsumsi kopi dan tehnya diamati selama 10 tahun. Para peneliti juga melakukan pengukuran BMD pada bagian leher femur dan pinggul, yang termasuk area tubuh yang rentan mengalami patah tulang akibat osteoporosis.
Menurut laporan New York Post pada Sabtu, 5 September 2026, konsumsi teh berhubungan dengan BMD pinggul total yang lebih tinggi. Sebaliknya, wanita yang mengonsumsi kopi lebih dari lima cangkir setiap hari cenderung memiliki BMD lebih rendah. Sementara itu, konsumsi kopi sekitar dua hingga tiga cangkir per hari tidak ditemukan berkaitan dengan dampak negatif terhadap kesehatan tulang.
Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa hubungan antara konsumsi kopi dan rendahnya BMD pada leher femur lebih kuat pada wanita yang memiliki konsumsi alkohol lebih tinggi. Adapun hubungan positif antara minum teh dan kepadatan tulang terlihat lebih jelas pada wanita dengan obesitas.
Baca Juga: Pramono Dorong Jakarta Jadi Simpul Utama Ekosistem Perkopian Indonesia
Para peneliti menjelaskan osteoporosis merupakan salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang terjadi di berbagai negara. Secara global, sekitar satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria berusia 50 tahun ke atas mengalami patah tulang yang berkaitan dengan osteoporosis. Pada wanita, risiko tersebut meningkat setelah menopause karena proses kehilangan massa tulang berlangsung lebih cepat.
Ryan Liu, salah satu penulis penelitian, menjelaskan kandungan katekin yang terdapat dalam teh berpotensi membantu proses pembentukan tulang sekaligus memperlambat kerusakan tulang.
"Sebaliknya, kandungan kafein dalam kopi telah terbukti dalam studi laboratorium mengganggu penyerapan kalsium dan metabolisme tulang, meskipun efek ini kecil dan dapat diimbangi dengan menambahkan susu," kata Liu.
Meski demikian, Liu menekankan bahwa hasil penelitian tersebut bukan berarti menganjurkan masyarakat untuk mengonsumsi kopi ataupun teh dalam jumlah berlebihan.
Kopi HItam (Freepik)
Baca Juga: Kopi RI Makin Dilirik Dunia, Tembus Pasar Maroko hingga China
"Tetapi hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi teh dalam jumlah sedang dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung kesehatan tulang dan bahwa asupan kopi yang sangat tinggi mungkin tidak ideal, terutama untuk wanita yang mengonsumsi alkohol," tambahnya.
Ahli diet terdaftar sekaligus profesor adjunkt nutrisi di Universitas New York, Lisa Young, meminta hasil penelitian tersebut dipahami secara hati-hati.
“Karena studi ini mengikuti wanita dari waktu ke waktu tanpa menugaskan mereka untuk minum kopi atau teh, studi ini hanya dapat menunjukkan asosiasi, bukan membuktikan bahwa kopi melemahkan tulang atau teh memperkuatnya,” kata Young kepada Fox News Digital.
Young juga menjelaskan terdapat sejumlah keterbatasan dalam penelitian tersebut. Di antaranya adalah adanya perbedaan gaya hidup di antara para peserta, penelitian yang lebih berfokus pada kepadatan mineral tulang daripada kejadian patah tulang, serta efek yang ditemukan relatif kecil dan terutama terlihat pada kelompok wanita lanjut usia.
Mayo Clinic menyebut beberapa tanda osteoporosis dan kehilangan tulang pada tahap awal dapat berupa sakit punggung, tinggi badan yang berkurang seiring waktu, serta postur tubuh yang semakin membungkuk.
“Intinya bagi masyarakat adalah meyakinkan: Konsumsi kopi dalam jumlah sedang tampaknya baik-baik saja, dan tidak perlu mengganti minuman demi kesehatan tulang Anda,” kata Young.
“Cara yang paling terbukti untuk melindungi kesehatan tulang tetaplah mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D, tetap aktif secara fisik, dan menghindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan,” tambahnya.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi minum kopi. (Antara)