Ntvnews.id, Jakarta - Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Prof Ari Fahrial Syam, mengingatkan masyarakat penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) agar lebih memperhatikan pola makan dan kondisi tubuh saat puasa maupun mudik.
Menurut Ari, secara umum kondisi kesehatan masyarakat selama bulan puasa cenderung membaik. Hal ini terjadi karena frekuensi makan berkurang sehingga sejumlah faktor risiko penyakit ikut menurun.
“Secara umum pun sebenarnya kasus juga menurun ya, karena sejatinya kan dengan dia berpuasa, dia ngurangin makan, faktor-faktor risiko juga dikurangin gitu,” ujarnya pada Kamis, 5 Maret 2026 di Jakarta.
Namun kondisi tersebut kerap berubah setelah Lebaran. Banyak orang kembali mengonsumsi berbagai jenis makanan secara berlebihan sehingga memicu kambuhnya sejumlah penyakit, termasuk gangguan lambung.
Baca Juga: Cek Fakta: Foto Netanyahu Jadi Korban Serangan Iran Ternyata Rekayasa AI
“Nah setelah lebaran bagaimana ya? Ketika lebaran mereka masih makan, makannya udah nggak terkendali lagi gitu ya, yang udah dijaga, akhirnya terutama jeruan-jeruan seafood, akhirnya asam uratnya kambuh ya. Kemudian tadi kek coklat, keju banyak, kita tahu makanan kita mengandung coklat, keju, akhirnya mahnya atau gartnya kambuh lagi gitu,” katanya.
Pria yang juga berpraktik di Poli Penyakit Dalam Primaya Hospital Kelapa Gading itu juga mengatakan bahwa lonjakan pasien biasanya terjadi pada minggu-minggu pertama setelah Lebaran, terutama di rumah sakit daerah karena mobilitas masyarakat yang masih tinggi akibat aktivitas mudik.
“Jadi memang biasanya minggu-minggu pertama setelah lebaran yang rame rumah sakit-rumah sakit di daerah, ya gitu kan mereka masih mudik,” ujarnya.
Bagi penderita GERD yang tetap ingin berpuasa saat mudik, Ari menyarankan agar perjalanan dilakukan pada malam hari. Menurutnya, perjalanan siang hari ketika tubuh dalam kondisi berpuasa bisa membuat tubuh cepat lelah.
“Ya, prinsipnya jadi satu hal gini, kalau mudik itu yang kita mesti perhatikan adalah kalau dia memang tetap mau berpuasa, maka dia tetap mesti, kalau saya anjurkan, sebaiknya dia melakukan peradanan mudik di malam hari ya. Artinya tidak dia berkondisi berpuasa,” jelas Ari.
Baca Juga: Gejala yang Harus Diwaspadai bagi Penderita GERD Saat Lebaran
Selain itu, ia menganjurkan pemudik membawa makanan sendiri dari rumah. Hal ini untuk menghindari konsumsi makanan yang kualitasnya tidak terjamin atau terlalu banyak gorengan yang dapat memicu keluhan lambung.
“Artinya dia lebih baik siap bawa makanan dari rumah, karena kalau di jalanan kan dia tidak tahu apakah kualitasnya baik, kemudian juga ya mungkin makanan-makanan banyak gorengan yang dikonsumsi, jadi itu yang harus diperhatikan,” tambah dia.
“Dan satu hal lagi, jangan lupa obat. Kadang-kadang kalau selama perjalanan kan bisa aja dia opotik tutup, misalnya susah menemukan obat, oleh karena itu dia harus siap obat. Paling tidak obat untuk meneterakan asam lambung,” lanjutnya.
Selain saat mudik, Ari juga mengingatkan masyarakat agar tidak makan berlebihan, misalnya saat menghadiri acara makan sepuasnya. Ia menjelaskan bahwa lambung memiliki kapasitas terbatas.
“Lambung kita ini kan seperti kantong, yang saya bilang tadi lambung seperti kantong, kapasitasnya itu hanya 600-800 cc ya, kalau yang ideal normalnya,” lanjutnya.
Jika makanan dikonsumsi terlalu cepat dan dalam jumlah besar, lambung bisa mengalami peregangan mendadak yang memicu keluhan seperti sesak napas hingga jantung berdebar.
“Nah yang jadi masalah, apabila dia juga nggak bisa muntah. Nggak bisa muntah, akhirnya di situ ya udah, dia akan sesak nafas, jantung berdebar-debar,” tambah dia.
Karena itu, ia menekankan pentingnya mengatur pola makan dengan porsi kecil dan tidak terburu-buru.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH menjelaskan bahaya keracunan makanan saat ditemui ANTARA usai mengikuti sebuah konferensi pers di Jakarta, Senin, 29 September 2025. (ANTARA)