Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui untuk tidak mengembangkan senjata nuklir di tengah proses negosiasi yang berlangsung antara kedua negara guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Dilansir dari Fox News, Senin, 1 Juni 2026, Trump menyatakan dirinya telah memperoleh jaminan dari Teheran bahwa program pengayaan uranium Iran tidak akan diarahkan untuk menghasilkan senjata nuklir.
"Satu-satunya jaminan yang harus saya dapatkan adalah tak akan ada senjata nuklir. Mereka sudah setuju, dan itu sangat menarik," kata Trump.
Selain isu nuklir, Trump menyebut salah satu prioritas utama pemerintahannya saat ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak awal Maret.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut dilakukan Teheran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran pada 28 Februari. Sebagai bagian dari respons terhadap serangan tersebut sekaligus upaya menekan lawan-lawannya, Iran memutuskan menutup salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia itu.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menunjukkan sikap yang lebih moderat terkait kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran. Jika sebelumnya Washington terkesan siap mengambil langkah agresif apabila tuntutannya tidak dipenuhi, kali ini Trump mengindikasikan pendekatan yang lebih bertahap.
Baca Juga: Dana Donor Tak Kunjung Ada, Board of Peace Gagasan Trump Terancam Mandek
"Saya tidak buru-buru. Pelan tapi pasti, saya rasa kita akan mendapat apa yang kita inginkan, dan jika kita tak mendapat apa yang kita mau, kita mengakhiri dengan cara berbeda," kata dia.
Meski demikian, sejak dimulainya perundingan dengan Amerika Serikat, Iran berulang kali membantah sejumlah klaim yang disampaikan Trump, khususnya terkait program nuklir mereka. Pemerintah Iran menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah mengakhiri perang, sementara pembahasan mengenai program nuklir akan dibicarakan pada tahap berikutnya.
Di tengah perkembangan tersebut, sebuah sumber menyebutkan bahwa pemerintahan Trump telah mengirimkan proposal baru kepada otoritas di Teheran yang berisi tuntutan yang disebut "lebih keras." Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai isi maupun rincian tuntutan tersebut.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)
Pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran diketahui telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari. Pemerintah AS juga mengklaim bahwa proses negosiasi terkait program nuklir Iran mulai memasuki tahap pembahasan.
Perkembangan ini menjadi bagian dari upaya diplomatik yang sedang berlangsung antara kedua negara setelah periode ketegangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Meski sejumlah klaim optimistis telah disampaikan Washington, posisi resmi Iran masih menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai program nuklir belum menjadi fokus utama dalam agenda negosiasi saat ini.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi isyarat di lokasi pembangunan ruang dansa Gedung Putih yang sedang berlangsung di Washington, DC, AS, 19 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)