Ntvnews.id , Jakarta - Desain ogoh-ogoh di Bali terus mengalami transformasi dari waktu ke waktu, berkembang dari bentuk sederhana menjadi karya kreatif yang penuh inovasi. Perkembangan tersebut tidak menghilangkan nilai-nilai spiritualnya, melainkan tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi.
“Desain ogoh-ogoh terus bertransformasi dari bentuk yang sederhana menjadi karya artistik penuh inovasi. Perkembangan ini tanpa menghilangkan makna spiritualnya,” demikian keterangan dalam infografik tersebut.
Pada era tahun 1980-an, ogoh-ogoh muncul sebagai bagian dari tradisi ngerupuk atau arak-arakan sebelum Nyepi.
Bentuknya didominasi patung besar menyerupai Bhuta Kala yang melambangkan energi negatif.
Baca Juga: Menag Ajak Jadikan Nyepi Momentum Perkuat Harmoni di Tengah Keberagaman
Material yang digunakan pun masih sederhana, seperti bambu, kertas, dan kain, mencerminkan keterbatasan teknologi sekaligus kekuatan nilai tradisional masyarakat Bali.
Memasuki tahun 1990-an, ogoh-ogoh mulai mengalami modernisasi.
Penggunaan bahan seperti styrofoam, besi, dan material sintetis mulai diterapkan, sehingga menghasilkan bentuk yang lebih kompleks dan detail visual yang lebih menarik.
Sosok raksasa yang menyeramkan tetap menjadi dominasi, namun dengan sentuhan teknik yang lebih maju.
Perkembangan semakin pesat pada tahun 2000-an, ketika kreativitas dan isu kontemporer mulai mewarnai desain ogoh-ogoh.
Tema yang diangkat tidak lagi terbatas pada skala raksasa, tetapi meluas hingga isu-isu sosial dan tokoh masyarakat.
Karya-karya pun menjadi lebih ekspresif dan artistik. Bahkan pada tahun 2018, penggunaan styrofoam mulai dibatasi dan kembali mengarah pada bahan alami sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Baca Juga: Pemerintah Jaga Pasokan Sembako Jelang Nyepi dan Idulfitri Cukup dan Harga Terkendali
Pada tahun 2020-an, inovasi semakin terlihat dengan pemanfaatan teknologi.
Ogoh-ogoh kini menggunakan kombinasi material seperti kawat aluminium, rangka besi, serta dilengkapi teknologi mekanik, robotik, hingga pencahayaan.
Hasilnya, tampilan ogoh-ogoh menjadi semakin dinamis dan atraktif saat diarak. Meski begitu, fungsi utamanya tetap sama, yakni sebagai representasi Bhuta Kala yang diarak ramai-ramai dan kemudian dibakar agar elemen negatif menjauh.
Berikut infografiknya:
Desain ogoh-ogoh terus bertransformasi dari bentuk yang sederhana menjadi karya artistik penuh inovasi. Perkembangan ini tanpa menghilangkan makna spiritualnya sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. (Antara)
Desain ogoh-ogoh terus bertransformasi dari bentuk yang sederhana menjadi karya artistik penuh inovasi. Perkembangan ini tanpa menghilangkan makna spiritualnya sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. (Antara)