Ntvnews.id, Jakarta - Nama Khaby Lame kembali menjadi perbincangan global, bukan karena konten reaksinya yang ikonik, melainkan kontroversi bisnis yang menyeretnya. Sosok yang dikenal sebagai “raja ekspresi tanpa kata” itu sempat dikaitkan dengan lonjakan valuasi fantastis hingga mendekati status miliarder, namun kini justru dihadapkan pada tanda-tanda masalah serius di balik kesepakatan tersebut.
Pada Januari lalu, perusahaan Rich Sparkle Holdings mengumumkan kesepakatan bernilai USD 975 juta (sekitar Rp 15,6 triliun) untuk mengakuisisi entitas yang memegang hak komersial Lame, yaitu Step Distinctive. Sekilas, transaksi itu tampak seperti pembelian tunai biasa. Namun, struktur sebenarnya lebih kompleks karena dilakukan melalui penerbitan 75 juta saham baru.
Lonjakan harga saham sempat membuat Lame terlihat seperti miliarder, setidaknya di atas kertas. Dokumen perusahaan juga menunjukkan bahwa ia memiliki kendali hampir setengah dari kepemilikan Step Distinctive, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Setelah sempat meroket, saham Rich Sparkle Holdings dilaporkan jatuh lebih dari 90% dari puncaknya pada Januari. Penurunan tajam ini praktis menggerus sebagian besar nilai kesepakatan yang sebelumnya digembar-gemborkan.
Situasi semakin memicu kekhawatiran ketika sejumlah broker besar seperti Interactive Brokers, Fidelity Investments, dan Charles Schwab mulai membatasi bahkan menghentikan perdagangan saham tersebut. Langkah seperti ini biasanya menjadi sinyal peringatan bagi investor terkait stabilitas suatu saham.
Masalah lain muncul dari ketidakjelasan status transaksi itu sendiri. Meski Rich Sparkle Holdings sempat menyatakan akuisisi telah rampung melalui siaran pers pada Januari, laporan keuangan terbaru di akhir Maret justru menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut masih bergantung pada sejumlah syarat. Hingga kini, belum ada bukti kuat bahwa saham yang dijanjikan benar-benar telah diterbitkan sepenuhnya.
Baca Juga: Intelijen AS Tuduh China Siapkan Kiriman Rudal ke Iran, Beijing Bilang Begini
Kombinasi antara lonjakan harga yang ekstrem, promosi besar-besaran, dokumen yang ambigu, hingga kejatuhan nilai yang drastis membuat situasi ini mulai dicurigai menyerupai praktik manipulasi pasar. Sejak awal, model bisnis yang ditawarkan perusahaan pun dinilai terlalu ambisius.
Rich Sparkle Holdings diketahui berencana mengembangkan avatar berbasis AI dari Lame untuk mengelola kerja sama brand sekaligus menjual produk lintas platform media sosial. Targetnya pun tidak main-main: pendapatan tahunan hingga USD 4 miliar atau sekitar Rp 64 triliun.
Namun, gagasan mengubah figur media sosial menjadi “mesin bisnis AI” di pasar publik memicu skeptisisme di kalangan industri. Hingga kini, Khaby Lame sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait polemik tersebut sejak awal diumumkan.
Bahkan, ia dilaporkan telah menghapus simbol saham Rich Sparkle Holdings dari bio media sosialnya dan memilih tidak merespons berbagai permintaan komentar. Sikap diam ini justru semakin memperkuat spekulasi publik.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa lonjakan kekayaan instan di pasar saham—terutama yang dibungkus dengan hype dan figur publik—tidak selalu berujung manis. Dalam banyak kasus, harapan besar justru bisa berubah menjadi kekecewaan yang tak kalah besar.
TikTokers Khaby Lame (Instagram)