Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran mengaktifkan sistem pertahanan udara pada Kamis malam, 31 April 2026, untuk mengantisipasi ancaman dari pesawat kecil dan drone pengintai. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Teheran dan Amerika Serikat.
Dilansir dari Tasnim, Minggu, 3 Mei 2026, suara sistem pertahanan udara terdengar di sejumlah wilayah ibu kota Teheran. Operasi pengamanan udara itu berlangsung sekitar 20 menit guna memastikan wilayah udara terbebas dari objek asing sebelum situasi kembali dinyatakan normal.
Aktivasi sistem pertahanan tersebut terjadi bersamaan dengan sinyal dari Gedung Putih yang menyatakan bahwa pemerintah AS tidak ingin dibatasi tenggat waktu kongres terkait rencana aksi militer terhadap Iran.
Baca Juga: FIFA Pastikan Iran Tetap Main di AS pada Piala Dunia 2026
Saat ini, pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah menghadapi batas waktu untuk memperoleh persetujuan dari Kongres apabila ingin melanjutkan operasi militer ke wilayah Iran.
Ketentuan mengenai otorisasi tersebut memicu ketegangan politik domestik di Amerika Serikat antara pihak Gedung Putih dan Kongres terkait kewenangan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran.
Arsip foto - Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, Iran. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu (28/4/2024). Pembangkit Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir yang sering disebut-sebut dalam krisis internasional karena (Antara)