Raja Bahrain Kembali Ancam Cabut Kewarganegaraan Warganya yang Dukung Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Mei 2026, 11:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Bendera Iran. (Foto: Reuters) Ilustrasi. Bendera Iran. (Foto: Reuters)

Ntvnews.id, Manama - Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa memerintahkan otoritas terkait untuk mencabut kewarganegaraan tambahan bagi individu yang dituduh mendukung serangan Iran terhadap Bahrain.

Dilansir dari Bahrain News Agency, Minggu, 3 Mei 2026, langkah tersebut muncul beberapa hari setelah pemerintah Bahrain mengumumkan pencabutan kewarganegaraan terhadap 69 orang, termasuk anggota keluarga mereka, atas tuduhan bersimpati dan memuji serangan Iran.

Dalam pernyataannya, Raja Hamad menyebut tindakan Iran sebagai agresi Iran yang berdosa yang mengancam keamanan, stabilitas, serta keselamatan rakyat Bahrain. Menurutnya, situasi itu juga memperlihatkan adanya pihak-pihak yang menjual hati nurani mereka kepada musuh.

Raja Bahrain turut mendesak Iran agar menghentikan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Bahrain maupun negara-negara Teluk lainnya. Ia juga mengaku geram atas munculnya pihak-pihak yang dinilai berpihak kepada “pengkhianat,” termasuk sejumlah anggota parlemen.

Ia mempertanyakan bagaimana pejabat publik yang memperoleh kepercayaan masyarakat justru dapat berdiri bersama pihak yang disebutnya sebagai pengkhianat dan ditolak opini publik.

Baca Juga: Trump Kecam Pihak yang Nilai AS Tak Menang Perang Lawan Iran

Pernyataan tersebut muncul setelah beredarnya laporan di media sosial yang menyebut sejumlah anggota parlemen Syiah menolak undang-undang terkait pencabutan kewarganegaraan terhadap mereka yang dianggap memuji serangan Iran. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai laporan tersebut.

Raja Hamad juga memerintahkan pemecatan terhadap siapa pun yang dianggap bekerja sama dengan apa yang disebutnya sebagai agresi Iran. Ia menegaskan kewarganegaraan bukan sekadar dokumen, melainkan sebuah perjanjian yang dapat dicabut apabila dilanggar.

Selain itu, Raja menyebut masyarakat negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mendukung langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dituduh melakukan pengkhianatan, termasuk hukuman penjara dan pencabutan kewarganegaraan. Bahkan, menurutnya, ada dorongan agar tindakan lebih tegas dilakukan.

Secara terpisah, Ketua Parlemen Bahrain Ahmed bin Salman Al Musallam turut menyampaikan dukungan terhadap pernyataan raja. Ia menegaskan parlemen tidak menghormati anggota mana pun yang mendukung atau membenarkan tindakan yang dinilai merugikan negara dan kepentingan nasional.

Viral Warga Bahrain Rayakan Serang Drone Iran Kenai Gedung yang Disebut Persembunyian Mossad <b>(Istimewa)</b> Viral Warga Bahrain Rayakan Serang Drone Iran Kenai Gedung yang Disebut Persembunyian Mossad (Istimewa)

Pada 9 Maret lalu, Pengadilan Kriminal Tinggi Bahrain menggelar sidang pertama terhadap para terdakwa yang dituduh mempromosikan dan memuji tindakan Iran yang dianggap bermusuhan. Namun, otoritas tidak mengungkap jumlah terdakwa dalam kasus tersebut.

Bahrain bersama sejumlah negara Arab sebelumnya menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran sebagai respons atas operasi militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran yang berlangsung sejak akhir Februari hingga awal April.

Iran kala itu menyatakan serangan tersebut menyasar kepentingan Amerika Serikat di kawasan. Namun, beberapa serangan dilaporkan mengenai fasilitas sipil dan infrastruktur penting hingga menimbulkan korban jiwa serta kerusakan material, yang kemudian dikecam negara-negara terdampak.

x|close