Idrus Marham : Pernyataan Prof. Amien Rais soal Prabowo Abaikan Prinsip Tabayyun. Tanpa Tabayun bisa jadi Fitnah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Mei 2026, 20:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta -  Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua Koalisi Merah Putih (KMP) 2014, Idrus Marham, menyoroti pernyataan Amien Rais dalam sebuah video yang beredar di YouTube dan menuai polemik publik. Idrus menilai, pernyataan tersebut mencerminkan minimnya penerapan prinsip tabayyun atau verifikasi dalam menyampaikan informasi di ruang publik.

Idrus mengaku terkejut dengan konten video tersebut, mengingat hubungan yang selama ini terjalin erat antara Amien Rais dan Presiden Prabowo Subianto sejak masa Koalisi Merah Putih pada 2014.

“Saya seperti disambar petir di siang bolong. Dulu komunikasi beliau dengan Pak Prabowo sangat intens dan solid. Bahkan lebih dari sekadar mitra koalisi, keduanya saling menopang secara pemikiran. Karena itu, saya bertanya, ke mana perginya semangat silaturahmi itu? Mengapa tidak bertabayyun sebelum menyampaikan tudingan serius ke publik?” ujar Idrus dalam keterangannya, Minggu, 3 Mei 2026.

Baca Juga: 97 Gedung Sekolah Rakyat Ditargetkan Beroperasi Juli 2026

Menurut Idrus, kedekatan Amien Rais dan Prabowo bukanlah hubungan politik biasa. Dalam dinamika Koalisi Merah Putih 2014, keduanya dikenal memiliki komunikasi yang cair, intens, dan penuh kepercayaan. Oleh karena itu, perubahan sikap yang ditunjukkan melalui pernyataan terbuka dinilai menjadi pertanyaan besar.

“Hubungan itu dibangun dengan modal kepercayaan dan silaturahmi yang panjang. Maka sangat disayangkan jika kemudian ruang publik justru digunakan untuk melontarkan tuduhan tanpa proses klarifikasi,” kata dia.

Idrus menegaskan, demokrasi memang menjamin kebebasan berpendapat. Namun, kebebasan tersebut tidak boleh dimaknai tanpa batas, apalagi jika berpotensi menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Ia menekankan bahwa dalam perspektif agama, khususnya Islam, tabayyun merupakan prinsip fundamental yang wajib dipegang dalam komunikasi publik. Prinsip ini mencakup verifikasi sumber (tatsabbut), pemeriksaan isi informasi, konfirmasi kepada pihak terkait, hingga menahan diri untuk tidak menyebarluaskan informasi sebelum kebenarannya jelas.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham <b>(NTVnews)</b> Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham (NTVnews)

“Tabayyun itu bukan sekadar cek fakta. Ada proses menyeluruh—mulai dari memeriksa kredibilitas sumber, isi informasi, hingga memberi ruang klarifikasi kepada pihak yang dituduh. Tanpa itu, kita berisiko terjebak dalam disinformasi,” ujar Idrus.

Ia juga mengingatkan bahwa penyebaran tuduhan tanpa verifikasi, terlebih yang menyangkut moralitas seseorang, dapat berdampak serius dan merusak tatanan sosial maupun politik.

Dalam konteks tersebut, Idrus mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang telah mengambil tindakan terhadap konten yang dinilai mengandung hoaks dan ujaran kebencian.

Baca Juga: Menlu Iran Kritik Eropa soal Klaim Program Nuklir, Tegaskan Tujuan Damai

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pihaknya tidak menempuh jalur hukum terhadap Amien Rais, melainkan menjalankan kewenangan administratif sesuai undang-undang, seperti melakukan take down terhadap konten bermasalah.

“Langkah Komdigi sudah tepat dan proporsional. Ini bukan soal membungkam kritik, tetapi menjaga ruang publik dari konten yang mengandung fitnah dan disinformasi,” kata Idrus.

Dalam siaran pers resminya, Komdigi menyatakan bahwa video yang diunggah Amien Rais mengandung narasi fitnah, serangan personal, serta ujaran kebencian terhadap Presiden. Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah penurunan konten guna menjaga kualitas informasi di ruang digital.

Lebih jauh, Idrus menekankan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap penting dalam demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan dengan cara yang beretika dan bertanggung jawab.

“Kalau memang ingin menjadi moralis sejati, justru tabayyun itu wajib. Tanpa itu, kritik bisa berubah menjadi fitnah. Bahkan, kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah bisa menimbulkan kerusakan yang lebih besar,” tegasnya.

Idrus pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama di tengah derasnya arus digital saat ini.

“Jangan kejar viral. Viral itu sesaat, tapi dampaknya bisa panjang. Mari biasakan tabayyun agar ruang publik kita tetap sehat dan bermartabat,” pungkas Idrus.

x|close