BPOM Perkuat Sinergi Industri Farmasi Jaga Ketahanan Obat Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 19:27
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam diskusi bersama industri farmasi bertajuk “Menjaga Ketahanan Obat Nasional sebagai Respons Kesiapsiagaan Dampak Geopolitik Global terhadap Stabilitas Harga dan Akses Obat di Indonesia” di Jakarta, Rabu 6 Mei 2026. ANTARA/HO - BPOM Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam diskusi bersama industri farmasi bertajuk “Menjaga Ketahanan Obat Nasional sebagai Respons Kesiapsiagaan Dampak Geopolitik Global terhadap Stabilitas Harga dan Akses Obat di Indonesia” di Jakarta, Rabu 6 Mei 2026. ANTARA/HO - BPOM (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar forum diskusi bersama industri farmasi untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga ketahanan obat nasional di tengah dinamika geopolitik global. Langkah ini dilakukan guna memastikan ketersediaan obat bagi masyarakat tetap terjaga.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyampaikan bahwa situasi geopolitik global, terutama ketegangan di kawasan strategis seperti Timur Tengah yang menjadi jalur perdagangan utama, turut memengaruhi stabilitas rantai pasok berbagai komoditas penting, termasuk sektor farmasi.

"Kondisi tersebut berdampak langsung pada peningkatan harga serta potensi gangguan ketersediaan obat. Situasi ini menjadi perhatian serius, mengingat Indonesia masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan baku farmasi, yakni mencapai 94," katanya di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa tingkat ketergantungan tersebut jauh di atas rata-rata global, khususnya di negara-negara yang sudah mandiri, yang umumnya berada di bawah 65 persen.

Baca Juga: BPOM Dorong Kolaborasi ABG untuk Percepat Pengembangan Obat Inovatif

Menurut Taruna, hasil diskusi sebelumnya menunjukkan bahwa stok obat di Indonesia masih tergolong aman untuk enam bulan ke depan.

Namun demikian, kondisi tersebut tetap memerlukan langkah antisipasi yang matang.

Sebagai otoritas pengawas, BPOM berkomitmen memastikan obat yang beredar tetap memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu. Di sisi lain, lembaga tersebut juga mendukung upaya industri farmasi dalam menjaga ketersediaan obat.

Dalam menghadapi tantangan global, BPOM juga membuka peluang fleksibilitas regulasi secara terbatas dan terukur, tanpa mengurangi aspek keselamatan.

"Karena itu, hari ini kita berdialog untuk mengetahui kondisi nyata sektor farmasi dan mengidentifikasi risiko, lalu merumuskan langkah mitigasi yang konkret, adaptif, dan berkelanjutan secara bersama-sama," kata Taruna.

Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan serta harga obat di dalam negeri.

Baca Juga: BPOM Luncurkan e-MESO 2.0, Perkuat Pelaporan Efek Samping Obat oleh Masyarakat

Dalam forum tersebut, perwakilan industri farmasi dan pedagang besar farmasi turut menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi, khususnya terkait keterbatasan bahan baku yang berdampak pada kenaikan biaya produksi dan harga obat.

Selain itu, akses terhadap bahan baku juga menjadi perhatian utama. Para pelaku industri menilai perlu adanya strategi khusus agar harga obat tetap terjangkau dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan tidak terganggu.

(Sumber: Antara)

 

x|close