Ntvnews.id, Paris - Kapal induk Prancis Charles de Gaulle bergerak menuju wilayah selatan Laut Merah sebagai respons terhadap kemungkinan operasi pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dilansir dari AFP, Jumat, 8 Mei 2026, langkah tersebut dilakukan untuk menunjukkan kesiapan Prancis dalam menjaga keamanan kawasan strategis tersebut. Seorang ajudan Presiden Emmanuel Macron mengatakan pergerakan armada itu dimaksudkan untuk mengirim “sinyal bahwa kami tidak hanya siap mengamankan Selat Hormuz, tetapi juga mampu melakukannya.”
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima distribusi minyak mentah dunia, diketahui nyaris lumpuh sejak konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu.
Kementerian Pertahanan Prancis menyebut kapal induk Charles de Gaulle bersama kapal pengawalnya tengah melintasi Terusan Suez menuju Laut Merah bagian selatan.
Baca Juga: Iran Tegaskan AS Wajib Berikan Visa Buat Timnas di Piala Dunia 2026
Keputusan tersebut diambil “untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan inisiatif ini segera setelah situasi memungkinkan,” demikian penjelasan kementerian itu.
Lebih dari 40 negara disebut telah mulai menyusun rencana militer terkait misi di Hormuz setelah adanya pembicaraan yang dimediasi Inggris.
Ajudan Macron menegaskan Prancis mengambil langkah itu karena “blokade Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global semakin parah, dan risiko konflik berkepanjangan terlalu serius untuk kami abaikan.”
Macron bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer diketahui memimpin inisiatif multinasional guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Mereka menekankan bahwa misi tersebut bersifat defensif dan baru akan dijalankan setelah perang berakhir.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan konferensi pers setelah KTT Uni Eropa (UE) di Brussels, Belgia pada 19 Maret 2026. ANTARA/Dursun Aydemir/Anadolu/pri. (Antara)
Melalui akun X, Macron mengaku telah menyampaikan “keprihatinan mendalam” kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian terkait eskalasi di kawasan Teluk di tengah mandeknya negosiasi damai.
“Semua pihak harus mencabut blokade selat itu, tanpa penundaan dan tanpa syarat,” tulis Macron di X, merujuk pada blokade AS terhadap pelabuhan Iran serta pembatasan yang diterapkan Teheran di jalur laut strategis tersebut.
Sementara itu, ketegangan di kawasan juga meningkat setelah sebuah kapal milik perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM diserang saat melintasi Selat Hormuz.
Dalam keterangannya, perusahaan tersebut menyebut kapal CMA CGM San Antonio diserang pada Selasa, 5 Mei 2026, mengakibatkan sejumlah awak mengalami luka dan kapal mengalami kerusakan.
Baca Juga: Ultimatum Iran, Trump: Pengeboman Akan Dimulai Jika Gagal Capai Kesepakatan
“Kapal CMA CGM San Antonio menjadi target serangan kemarin saat melintasi Selat Hormuz, yang mengakibatkan cedera pada beberapa awak kapal dan memicu kerusakan pada kapal,” demikian pernyataan CMA CGM.
Kapal berbendera Malta itu diserang sehari setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan operasi militer “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz.
Namun, Trump kemudian mengumumkan penghentian sementara operasi tersebut sebagai bagian dari upaya membuka jalan menuju kesepakatan dengan Iran demi mengakhiri perang.
Kapal induk Prancis, Charles de Gaulle (R91). (Antara)