Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, memperkenalkan paradigma baru dalam program transmigrasi di Indonesia. Tak ingin lagi sekadar memindahkan penduduk, pemerintah kini fokus pada penciptaan ekosistem ekonomi terlebih dahulu agar para transmigran tidak hanya datang, tetapi juga betah dan sejahtera.
Menteri menggunakan analogi kuno yang sederhana dan mendalam yakni: “Ada Gula Ada Semut.” Dimana pepatah tersebut kini diubah menjadi kita yang mencetak pabrik gula sendiri agar semut tersebut datang.
“Strategi kami untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru itu adalah ada gula ada semut. Kalau dulu kami memindahkan semut, ya, semut kalau tidak ada gulanya dia tidak betah, lalu balik lagi (ke daerah asal). Nah, sekarang kami mencetak gulanya,” ujar Mentrans di kawasan Jakarta, 26 Mei 2026.
Sebagai contoh nyata, Menteri menyoroti Kawasan Transmigrasi Melolo yang selama ini terbelenggu angka kemiskinan tinggi mencapai 32 persen. Penyebab utamanya adalah tanah yang tandus dan tidak adanya sumber pendapatan bagi warga setempat.
Namun, lewat riset mendalam, ditemukan fakta bahwa lahan kering di bawah garis khatulistiwa tersebut justru sangat cocok untuk ditanami tebu. Masalahnya, tanah di Melolo didominasi oleh bebatuan yang sulit diolah.
“Problem datang, bagaimana menanam tebu di tanah yang berbatu? Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kami mengadopsi cara dari industri pertambangan. Batu-batu tersebut dipecah dan dipisahkan dari tanahnya, sehingga yang tersisa adalah tanah subur yang siap tanam,” jelasnya.
Meski secara kalkulasi ekonomi awal membutuhkan investasi teknologi, langkah ini dinilai jauh lebih efektif untuk jangka panjang guna mengubah daerah tertinggal menjadi lumbung industri.
Guna menyukseskan visi ini, Kementerian Transmigrasi menerjunkan Tim Ekspedisi Patriot. Tim ini memiliki misi khusus sebagai unit 'pencari gula' yang nantinya akan disebar di pelosok Indonesia.
Mereka ditugaskan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi di kawasan transmigrasi, mulai dari kecocokan lahan hingga komoditas unggulan yang bisa dikembangkan.
“Jadi yang diharapkan dari Tim Ekspedisi Patriot, pertama mereka menemukan potensi gulanya. Minimal, mereka tahu di mana harus menanam tebu atau komoditas lainnya. Analogi ini adalah kenyataan yang sedang kami kerjakan,” tegasnya.
Melalui strategi mencetak gula, pemerintah optimistis program transmigrasi tidak lagi dianggap sebagai program pembuangan penduduk ke daerah terisolasi. Sebaliknya, transmigrasi akan menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang berbasis pada kekuatan lokal dan sentuhan teknologi.
Targetnya jelas yakni mengubah lahan tidur menjadi pusat produksi, menekan angka kemiskinan, dan memastikan setiap 'semut' yang datang ke kawasan transmigrasi mendapatkan 'gula' yang manis bagi masa depan mereka.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam konferensi pers Pertemuan Kepala SKK Migas dengan Menteri Transmigrasi di Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Senin 4 Mei 2026. ANTARA/Putu Indah Savitri/am. (Antara)