PBB Serukan Rusia dan Ukraina Hindari Serangan ke Fasilitas Vital

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Jun 2026, 09:31
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
UN Secretary-General Antonio Guterres. ANTARA/HO-Anadolu Ajansi/pri. UN Secretary-General Antonio Guterres. ANTARA/HO-Anadolu Ajansi/pri. (Antara)

Ntvnews.id, New York - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina untuk tidak menjadikan fasilitas vital sebagai sasaran serangan di tengah meningkatnya intensitas pertempuran.

Dilansir dari RIA Novosti, Senin, 1 Juni 2026, Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, menyampaikan bahwa organisasi internasional tersebut berharap semua pihak yang bertikai dapat menahan diri dan menghindari serangan terhadap infrastruktur penting, termasuk fasilitas energi dan instalasi nuklir.

Pernyataan itu disampaikan Farhan Haq kepada RIA Novosti saat menanggapi insiden terbaru yang terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia atau ZNPP.

Sebelumnya, Direktur Utama Rosatom, Alexey Likhachev, mengungkapkan bahwa sebuah drone yang disebut berasal dari Ukraina menghantam gedung aula turbin Unit 6 PLTN Zaporizhzhia hingga memicu ledakan.

Meski terjadi ledakan, insiden tersebut dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan serius pada peralatan utama pembangkit. Pengelola fasilitas juga menjelaskan bahwa bagian aula turbin yang terdampak berada sekitar belasan kaki dari aula reaktor nuklir.

Baca Juga: Bakom Qodari Sebut Instruksi Prabowo Perluas Bahasa Prancis di Sekolah Tingkatkan Daya Saing SDM

Peristiwa itu kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan fasilitas nuklir di tengah konflik yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

Sebelumnya, perhatian terhadap meningkatnya eskalasi perang juga telah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi Ukraina pada Kamis, 28 Mei 2026, Guterres mengingatkan bahwa perkembangan konflik saat ini menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan dan berpotensi keluar dari kendali.

“Arah perang, yakni eskalasi dan intensifikasi yang kita saksikan, berisiko lepas kendali,” kata Guterres.

Ia menegaskan bahwa upaya deeskalasi harus menjadi prioritas utama untuk mencegah konflik semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi kawasan maupun dunia internasional.

Menurut Guterres, langkah-langkah seperti penghentian kekerasan, penerapan gencatan senjata, serta kelanjutan proses diplomasi menjadi kunci dalam menciptakan solusi jangka panjang atas konflik tersebut.

Arsip foto - Asap membubung ke langit di Kiev, Ukraina (27/2/2022). ANTARA/Xinhua/Lu Jinbo/aa. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Asap membubung ke langit di Kiev, Ukraina (27/2/2022). ANTARA/Xinhua/Lu Jinbo/aa. (Antara)

“Yang dibutuhkan saat ini adalah menciptakan kondisi untuk perdamaian yang adil, abadi, dan komprehensif, sesuai dengan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB,” ujarnya.

Seruan PBB tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap keselamatan infrastruktur strategis, khususnya fasilitas nuklir, yang berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan dan lingkungan yang sangat luas apabila menjadi sasaran serangan dalam konflik bersenjata.

x|close