Pengakuan YTR Korban Dugaan Penyekapan 3 Tahun: Sekalipun Mati, Orang Tua Harus Lihat Mayat Aku

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jun 2026, 16:53
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Terduga Pelaku Penyekapan di Bandung Taufik Hidayat Terduga Pelaku Penyekapan di Bandung Taufik Hidayat (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah kondisi yang disebutnya penuh penderitaan selama tiga tahun terakhir, YTR (29) mengaku hanya memiliki satu harapan yang terus membuatnya bertahan hidup: bisa kembali pulang dan bertemu keluarganya, apa pun keadaannya.

Perempuan yang menjadi korban dugaan penyekapan dan penganiayaan di sebuah rumah kos di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung itu mengungkapkan bahwa pada satu titik dirinya bahkan tidak yakin masih bisa keluar dari situasi yang dialaminya. Namun di tengah keterbatasan dan rasa putus asa, ia terus berdoa agar dapat kembali ke rumah.

“Awalnya gak ada, tapi ya aku ingat Allah. Ya Allah, aku akhirnya pulang dalam keadaan apa pun juga. Sekalipun dalam keadaan mati ya, amit-amit ya. Setidaknya orang tua harus lihat mayat aku kayak bagaimana gitu kan,” katanya.

Menurut pengakuannya, kondisi fisiknya mulai memburuk setelah mengalami kekerasan yang diduga dilakukan oleh Taufik Hidayat (30). Akibat penganiayaan tersebut, penglihatannya rusak hingga membuatnya kehilangan kemampuan untuk beraktivitas secara normal dan sepenuhnya bergantung kepada pelaku.

“Gak bisa karena udah gak bisa lihat. Jadi kalau misalkan disiksa nih ya, terus saya teh mengeluarkan suara, heeuh, kayak gitu, sama dia disiksa lagi. Jadi saya teh gak bisa ke mana-mana,” kata YTR.

Dalam kesehariannya, korban mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar kos. Saat pelaku bekerja sebagai debt collector, ia hanya bisa berbaring karena keterbatasan yang dialaminya. Jika harus keluar, ia diminta mengenakan masker.

“Dia kan kerjanya jadi debt collector, jadi kalau misalkan dia pergi, di kosan saya suka tidur-tidur. Kalau misalkan ikut, paling saya disuruh pakai masker,” ujarnya.

Baca Juga: Airlangga Pastikan Stimulus Rp26,34 Triliun Tak Goyahkan Defisit APBN 2026

YTR juga menceritakan kekerasan yang berulang kali dialaminya selama tinggal bersama pelaku. Bagian tubuh yang pertama kali mengalami luka adalah mata, kemudian telinga dan kaki.

“Aku sering dipukul sih, aku sering dipukul. Pertama mata dulu yang dipukul, terus ini telinga ya, terus kaki, kaki juga,” ucapnya.

Selain mengalami kekerasan fisik, korban mengaku hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia hanya mendapat makan satu kali dalam sehari dan kesulitan menjalani aktivitas dasar karena tidak bisa melihat.

“Terus makan sehari satu kali ya, itu juga ya bahkan aku juga makan sendiri. Terus sisanya bisa dibilang jarang mandi, karena ya kan aku gak bisa lihat ya, jadi mau mandi gimana gitu kan,” tuturnya.

Untuk kebutuhan buang air, YTR mengatakan dirinya harus menggunakan popok sekali pakai yang dibelikan oleh pelaku.

“Paling kalau sehari-hari kayak BAB gitu aku harus pakai pampers, dia suka beliin gitu kan,” katanya.

Korban juga mengungkapkan bagaimana awal hubungannya dengan terduga pelaku. Menurutnya, hubungan tersebut pada mulanya berjalan normal. Saat itu ia masih bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

“Gimana lagi, namanya dia kan pacar aku. Awalnya biasa aja, dulu juga aku kerja. Cuman akhirnya atasan aku sama dia, kayak dia dimarahin gitu, jadi ya aku teh daripada gimana-gimana, yaudah mendingan keluar kerja,” ujarnya.

Baca Juga: Prabowo Soroti Anomali Pertumbuhan Ekonomi, Pertanyakan Kemiskinan yang Masih Bertambah

Seiring berjalannya waktu, sejumlah barang miliknya disebut ikut hilang, termasuk sepeda motor dan telepon genggam. Ia mengaku mengikuti berbagai keputusan pelaku karena percaya dengan alasan yang diberikan kepadanya.

“Kayak terus motor, HP iPhone habis. Aku gaji terus, ya aku juga nanya ke kakak sebagian, sama dia ngelakuin sama dia, bilangnya buat sehari-hari ya, aku tuh ya ikut aja,” ucapnya.

Setelah berhasil ditemukan dan kini menjalani perawatan medis, YTR berharap pelaku dapat segera ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Aku pengennya ketemu, dihukum mati lah. Iya lah, biar tahu gimana rasanya aku gitu kan,” katanya.

Di sisi lain, korban mengaku sempat mendengar informasi bahwa pelaku menghubungi orang tuanya setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik.

“Kemarin katanya si pelakunya ada nge-WA ke orang tua bilangnya khawatir. Paling juga di Garut dia mah,” ujarnya.

x|close