Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) terus memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji untuk memaksimalkan potensi ekonomi dari penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun setiap tahun.
Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas layanan ibadah, tetapi juga diarahkan untuk memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.
"Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri," kata Jaenal Effendi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Baca Juga: Pramono Kukuhkan 117 Petugas Haji DKI Jakarta
Ia menjelaskan pemerintah saat ini terus menjalankan berbagai program strategis agar sektor haji dan umrah mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Kemenhaj Akan Tertibkan Travel dan KBIHU yang Jadikan Haji serta Umrah sebagai Komoditas
Program tersebut mencakup penguatan rantai pasok, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri, hingga pengembangan investasi pada sektor-sektor yang mendukung penyelenggaraan ibadah haji.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, pemerintah memperluas penetrasi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji dan umrah. Hingga kini, sebanyak 28 jenis bumbu Nusantara telah berhasil didorong untuk diekspor dengan total volume lebih dari 300 ton. Selain itu, sekitar 3,1 juta paket makanan siap saji juga telah disediakan bagi jamaah.
Ditjen PE2HU juga mengembangkan sektor transportasi dan pariwisata dengan mengoptimalkan penerbangan kosong (empty flight) sebagai upaya menarik kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia.
Program yang dilaksanakan bersama berbagai pemangku kepentingan tersebut sejauh ini telah melayani sebanyak 1.723 penumpang dan akan terus diperluas.
Baca Juga: Kemenhaj Bentuk Daker Armuzna untuk Perkuat Layanan Jamaah Haji pada 2027
Jaenal menuturkan penguatan ekosistem ekonomi haji turut dilakukan melalui pendekatan investasi yang mencakup seluruh rantai proses, mulai dari hulu hingga hilir. Langkah itu juga dibarengi dengan penguatan sistem pengadaan serta distribusi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah.
Menurutnya, strategi tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha nasional untuk terlibat dalam rantai nilai haji dan umrah dengan potensi mencapai sekitar 30 hingga 40 persen.
Di sisi lain, pemerintah terus mengembangkan Platform Ekonomi Haji sebagai wadah digital yang mengintegrasikan ekosistem ekonomi haji. Platform tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses bagi pelaku usaha nasional.
Baca Juga: Kemenhaj Ingatkan Rekrutmen Petugas Haji Hanya Diumumkan Lewat Kanal Resmi
Jaenal menegaskan keberhasilan pembangunan ekosistem ekonomi haji membutuhkan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan.
“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi,” kata dia.
(Sumber: Antara)
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf saat memberi sambutan saat menyambut kedatangan jamaah haji kloter 116 di Asrama Haji Surabaya, Rabu, 1 Juli 2026. (Antara)