Ntvnews.id, Damaskus - Pasukan Israel dilaporkan melakukan sejumlah operasi penyusupan ke wilayah pedesaan Provinsi Quneitra, Suriah, dalam dua hari terakhir. Aktivitas militer tersebut memicu kecaman dari pemerintah Suriah yang menilai tindakan itu melanggar kesepakatan internasional.
Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan lima kendaraan militer Israel memasuki kawasan Al Samdaniyah Al Sharqiyah. Di lokasi tersebut, pasukan Israel mendirikan pos pemeriksaan sementara dan memeriksa warga yang melintas.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 20 Juli 2026, pasukan Israel yang berada di Al Hamidiyah juga dilaporkan menembakkan satu mortir serta granat asap ke area sekitar. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.
Pada malam sebelumnya, enam kendaraan militer Israel juga dilaporkan bergerak menuju kawasan Bendungan Koudna. Pergerakan itu disertai aktivitas pesawat nirawak (drone) sebelum akhirnya pasukan Israel menarik diri dari wilayah tersebut.
Pemerintah Suriah mengecam rangkaian operasi militer tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Pelepasan Pasukan (Disengagement Agreement) 1974.
Baca Juga: Trump Dorong Suriah Hadapi Hizbullah, Kritik Cara Israel Menangani Konflik
Damaskus juga menyerukan kepada komunitas internasional agar memberikan tekanan kepada Israel untuk segera menarik seluruh pasukannya dari wilayah selatan Suriah.
Operasi militer Israel di Suriah berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat konflik yang masih berlangsung antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Meski Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata, kedua negara kembali terlibat aksi saling serang dalam delapan hari terakhir.
Israel sendiri sejak awal menolak kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah di Tel Aviv menilai operasi militer terhadap Iran harus terus dilanjutkan hingga rezim di negara tersebut benar-benar dapat dilumpuhkan.
Ilustrasi - Pasukan militer Israel. (ANTARA/Anadolu)