Ntvnews.id, Istanbul - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menuding Iran berupaya memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Rubio kepada wartawan sebelum bertolak ke Filipina untuk menghadiri pertemuan para menteri luar negeri ASEAN, Minggu, 19 Juli 2026.
"Sangat jelas bahwa Iran, setidaknya sebagian pihak di negara itu, ingin menguasai Selat Hormuz dan menjadikannya sebagai alat tekan terhadap dunia," kata Rubio.
Menurut Rubio, sebagian pihak di Iran ingin menggunakan kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut sebagai instrumen untuk memberikan tekanan kepada komunitas internasional.
Baca Juga: Marco Rubio Tegaskan Pengayaan Uranium Jadi Fokus Negosiasi AS-Iran
Ia menegaskan Amerika Serikat akan terus mengambil langkah yang dianggap perlu guna menjaga keamanan jalur pelayaran internasional. Namun, Rubio menilai tanggung jawab tersebut tidak seharusnya hanya dipikul Washington.
"Amerika Serikat akan terus melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi pelayaran global, tetapi negara-negara lain juga harus meningkatkan kontribusi mereka, baik berupa peralatan maupun dukungan keuangan, untuk membantu memikul tanggung jawab itu," ujarnya.
Di sisi lain, Rubio mengatakan Amerika Serikat masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik dengan Iran. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kegagalan diplomasi tidak akan menguntungkan bagi Teheran.
Ia juga mengungkapkan pemerintah Iran telah memberikan sinyal mengenai keinginan untuk kembali melakukan dialog dengan Amerika Serikat.
Baca Juga: Senat AS Sahkan Marco Rubio Sebagai Menlu Saat Pelantikan Trump
Terkait tewasnya seorang tentara Amerika Serikat di Irak pada Sabtu, 19 Juli 2026, Rubio menjelaskan insiden tersebut terjadi akibat kecelakaan saat proses peledakan terkendali terhadap bahan peledak yang belum meledak dari sebuah drone Iran yang sebelumnya berhasil dijatuhkan.
Rubio juga menyebut satu rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Yordania pada Jumat, 18 Juli 2026, meski sebagian besar rudal lainnya berhasil dicegat.
Ia menambahkan, serangan yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat ke Iran merupakan respons atas peluncuran rudal dan drone yang menurut Washington menargetkan kapal-kapal komersial.
Foto arsip ini menunjukkan Selat Hormuz, Iran, Rabu, 19 Februari 2025 (Antara)