Houthi Blokade Laut Terhadap Arab Saudi, Ketegangan Kian Memanas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jul 2026, 13:07
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi para pengikut Houthi. (REUTERS/KHALED ABDULLAH) Ilustrasi para pengikut Houthi. (REUTERS/KHALED ABDULLAH) (Antaranews.com)

Ntvnews.id, Jakarta - Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi. Keputusan tersebut menjadi eskalasi terbesar dalam hubungan kedua pihak dalam beberapa tahun terakhir dan memperburuk ketegangan yang sebelumnya telah meningkat.

Deklarasi itu diumumkan hanya sepekan setelah pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi membombardir Bandara Internasional Sanaa. Serangan tersebut dilakukan untuk mencegah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi kembali dari Teheran mendarat.

Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (20/7/2026), mengecam tindakan yang disebutnya sebagai pengepungan terhadap Yaman. Ia kemudian mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi.

"Angkatan Bersenjata Yaman mendeklarasikan embargo maritim terhadap musuh Saudi yang kriminal, berdasarkan prinsip 'mata ganti mata,' yang berlaku segera," kata Saree dalam sebuah video yang diunggah di X, sebagaimana dilansir RT.

Saree juga memperingatkan bahwa setiap langkah yang diambil Arab Saudi akan dibalas dengan tindakan yang lebih besar.

"tindakan bodoh apa pun" oleh Arab Saudi "akan ditanggapi dengan eskalasi yang komprehensif dan tegas."

Menanggapi pengumuman tersebut, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam kelompok Houthi yang mereka sebut sebagai "milisi teroris Houthi". Riyadh juga menegaskan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai hukum internasional.

Konflik antara Houthi dan Arab Saudi telah berlangsung sejak perang saudara Yaman pecah. Kelompok Houthi, yang merupakan gerakan Syiah, merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Baca Juga: Qatar, Mesir, dan Pakistan Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari antara AS dan Iran

Kampanye pengeboman yang dipimpin Saudi menuai kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai organisasi hak asasi manusia karena dinilai memperparah krisis kemanusiaan di Yaman serta menyebabkan jutaan warga mengungsi.

Sebagai balasan, Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke berbagai sasaran di Arab Saudi, termasuk bandara dan fasilitas energi.

Sejak pecahnya perang di Gaza pada 2023, Houthi juga memperluas aksinya dengan menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Kelompok tersebut menyatakan serangan itu merupakan bentuk solidaritas terhadap Palestina. Aksi tersebut sebagian besar berhenti setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Houthi pada Mei 2025.

Pengumuman blokade laut terhadap Arab Saudi kini menambah tekanan terhadap jalur perdagangan internasional. Laut Merah merupakan salah satu rute pelayaran paling strategis di dunia karena menghubungkan Laut Mediterania melalui Terusan Suez dengan Samudra Hindia melalui Selat Bab el-Mandeb.

Situasi tersebut terjadi ketika Selat Hormuz, jalur pelayaran penting lainnya, masih ditutup akibat perang yang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, AS dilaporkan melanjutkan serangan terhadap Iran untuk malam kesepuluh berturut-turut pada Selasa, sementara kedua belah pihak mengisyaratkan bahwa gencatan senjata pada dasarnya telah berakhir.

x|close