PBB Desak Deeskalasi Usai Ancaman Houthi terhadap Arab Saudi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jul 2026, 14:35
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric (Antara)

Ntvnews.idPBB – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinannya terhadap meningkatnya ketegangan setelah kelompok Houthi melontarkan ancaman baru kepada Arab Saudi. Dalam pernyataannya pada Senin, 20 Juli 2026, PBB juga meminta seluruh pihak mengedepankan dialog dan jalur diplomatik guna meredakan situasi.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan pihaknya telah mencermati berbagai laporan mengenai ancaman tersebut.

"Kami telah melihat laporan-laporan tersebut dan sangat prihatin dengan ancaman baru Houthi terhadap Arab Saudi, terhadap kebebasan navigasi, serta risiko eskalasi regional yang lebih luas lagi," kata Dujarric.

Sebelumnya, kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Langkah itu diambil setelah kedua belah pihak saling melancarkan serangan udara pada pekan lalu yang berkaitan dengan penerbangan Iran menuju wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi.

Baca Juga: Houthi Blokade Laut Terhadap Arab Saudi, Ketegangan Kian Memanas

Menanggapi perkembangan itu, Dujarric kembali menegaskan pentingnya meredakan konflik.

"Kami menyerukan deeskalasi segera. Kami mendesak seluruh pihak untuk menyelesaikan perselisihan mereka melalui dialog dan diplomasi. Kami menegaskan kembali bahwa Resolusi Dewan Keamanan 2722 (2024) dan berbagai resolusi lanjutan terkait serangan Houthi terhadap kapal niaga dan komersial harus dihormati sepenuhnya," ujar Dujarric.

Dalam konferensi pers hariannya, Dujarric juga mengingatkan bahwa apabila terjadi blokade di Laut Merah—yang merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia selain Selat Hormuz—dampaknya akan sangat besar.

"Hal itu akan memengaruhi arus pengiriman logistik PBB, terutama bantuan kemanusiaan dan perlengkapan pemeliharaan perdamaian. Namun yang jauh lebih mengkhawatirkan, hal tersebut akan menghadirkan kembali dampak negatif terhadap perdagangan global, perdagangan energi, serta perdagangan secara keseluruhan," kata Dujarric.

Lebih lanjut, Dujarric mengungkapkan bahwa Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, kini berada di Muscat, Oman, untuk melanjutkan pembicaraan setelah menyelesaikan kunjungan ke Arab Saudi pada Minggu, 19 Juli 2026.

Baca Juga: Prabowo Percepat Digitalisasi Pendidikan, Indonesia Raih Pengakuan Tertinggi PBB

Selama berada di Arab Saudi, Grundberg bertemu dengan Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan, Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, serta para perwakilan dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

"Pertemuan-pertemuan tersebut berfokus pada perlunya deeskalasi dan kesepakatan pihak-pihak terkait mengenai langkah ke depan untuk mempertahankan capaian gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB pada 2022," ujar Dujarric.

Ia menambahkan, Grundberg juga menegaskan pentingnya menjaga Yaman agar tidak ikut terseret dalam eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. Selain itu, ia menekankan perlunya mempertahankan ruang bagi proses politik yang inklusif dan dipimpin oleh rakyat Yaman demi mewujudkan penyelesaian konflik secara menyeluruh.

(Sumber: Antara)

x|close