152 Perwakilan Puskesmas dan RSUD DKI Jakarta Ikuti Seminar Tingkatkan Penanganan Kelainan Bawaan Kraniofasial dan Urogenital

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jul 2026, 22:38
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
152 Perwakilan Puskesmas dan RSUD DKI Jakarta Ikuti Seminar Tingkatkan Penanganan Kelainan Bawaan Kraniofasial dan Urogenital. 152 Perwakilan Puskesmas dan RSUD DKI Jakarta Ikuti Seminar Tingkatkan Penanganan Kelainan Bawaan Kraniofasial dan Urogenital. (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Sebanyak 152 tenaga kesehatan yang mewakili seluruh Puskesmas Kecamatan dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Provinsi DKI Jakarta mengikuti seminar bertajuk Manajemen Multidisiplin Komprehensif untuk Kelainan Bawaan Kraniofasial dan Urogenital pada Senin, 20 Juli 2026.

Kegiatan yang digelar di Auditorium Plasthetic Clinic, Jakarta Pusat, tersebut merupakan bagian dari peringatan Cleft and Craniofacial Awareness Month 2026. Seminar diselenggarakan oleh Cleft Craniofacial Center (CCC) Jakarta bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA), dan Asosiasi Puskesmas Jakarta (APJ).

Melalui kegiatan ini, para tenaga kesehatan dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kelainan bawaan, melakukan deteksi dini, memberikan edukasi kepada keluarga pasien, serta menentukan rujukan yang tepat bagi pasien dengan kelainan kraniofasial maupun urogenital.

Kelainan bawaan seperti sumbing bibir dan langit-langit serta hipospadia selama ini kerap dipahami hanya membutuhkan tindakan operasi. Padahal, penanganannya jauh lebih kompleks dan memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu sejak usia dini, bahkan sejak masa kehamilan apabila kelainan sudah teridentifikasi melalui pemeriksaan prenatal.

Pasien umumnya membutuhkan pendampingan dalam jangka panjang, mulai dari aspek nutrisi, kemampuan makan, tumbuh kembang, pendengaran, perkembangan bicara, fungsi rahang, sistem saluran kemih, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Di sisi lain, tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan primer masih menghadapi tantangan dalam memberikan edukasi awal maupun menentukan rujukan yang sesuai. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian pasien terlambat memperoleh layanan multidisiplin yang komprehensif karena keterbatasan informasi mengenai pusat pelayanan yang tepat.

Melalui seminar ini, CCC bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta berupaya memperkuat kapasitas layanan primer agar masyarakat dapat lebih cepat memperoleh akses terhadap pelayanan yang sesuai.

Pada sesi pertama, Dr. dr. Prasetyanugraheni Kreshanti, Sp.B.P.R.E., Subsp.K.M.(K) memaparkan materi mengenai manajemen sumbing bibir dan langit-langit. Ia menjelaskan bahwa penanganan pasien sumbing merupakan proses panjang yang dimulai sejak bayi lahir hingga memasuki usia dewasa.

Selain operasi, pasien juga membutuhkan pemantauan pertumbuhan, pemenuhan nutrisi, pemeriksaan pendengaran, terapi bicara, perawatan gigi dan rahang, hingga dukungan psikososial. Melalui materi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tahapan penatalaksanaan pasien secara menyeluruh sehingga dapat melakukan rujukan pada waktu yang tepat sesuai kebutuhan pasien.

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. dr. Kristaninta Bangun, Sp.B.P.R.E., Subsp.K.M.(K) yang mengulas fistula palatum pada pasien sumbing. Ia menjelaskan bahwa komplikasi berupa lubang pada langit-langit setelah operasi dapat mengganggu fungsi makan, kemampuan berbicara, dan kualitas hidup pasien.

Risiko fistula dapat meningkat akibat berbagai faktor, seperti ukuran celah yang besar, kondisi gizi yang kurang baik, malnutrisi, anemia, hipoalbuminemia, hingga perawatan pascaoperasi yang tidak optimal.

Menurutnya, pencegahan komplikasi tersebut hanya dapat dilakukan melalui pelayanan multidisiplin yang terintegrasi sejak persiapan operasi hingga pemantauan pascaoperasi. Rendahnya angka kejadian fistula di Cleft Craniofacial Center menjadi salah satu indikator bahwa pendekatan komprehensif oleh tim multidisiplin mampu menekan risiko komplikasi seminimal mungkin.

Pada kesempatan yang sama, dr. Kristaninta juga memperkenalkan Cleft Craniofacial Center (CCC) sebagai pusat layanan multidisiplin bagi pasien dengan kelainan kraniofasial.

Ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan pasien tidak hanya bergantung pada keberhasilan tindakan operasi, tetapi juga koordinasi berbagai tenaga kesehatan, mulai dari dokter bedah plastik, dokter anak, dokter THT, dokter kedokteran fisik dan rehabilitasi, dokter gigi ortodonti, dokter gizi, psikiater, psikolog, hingga profesi kesehatan lainnya.

Keberadaan jejaring rujukan seperti CCC dinilai penting agar pasien memperoleh penanganan yang tepat sejak dini sehingga peluang mendapatkan terapi optimal tidak terlewatkan.

152 Perwakilan Puskesmas dan RSUD DKI Jakarta Ikuti Seminar Tingkatkan Penanganan Kelainan Bawaan Kraniofasial dan Urogenital <b>(Istimewa)</b> 152 Perwakilan Puskesmas dan RSUD DKI Jakarta Ikuti Seminar Tingkatkan Penanganan Kelainan Bawaan Kraniofasial dan Urogenital (Istimewa)

Seminar kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai peran ortodonti sebelum operasi yang disampaikan drg. Julieta Pancawati, Sp.Ort., FCFO. Ia menjelaskan bahwa perawatan ortodonti tidak hanya berfungsi merapikan susunan gigi, tetapi juga membantu mempersiapkan jaringan sebelum operasi, memperbaiki hubungan rahang, mengarahkan pertumbuhan wajah, serta mendukung keberhasilan tindakan bedah dalam jangka panjang.

Selanjutnya, Dr. dr. Luh Karunia Wahyuni, Sp.KFR(K) membahas kontribusi kedokteran fisik dan rehabilitasi dalam penanganan pasien sumbing. Menurutnya, rehabilitasi memiliki peran besar dalam mengoptimalkan kemampuan makan dan menyusui sejak bayi, mendukung perkembangan bicara, serta meningkatkan kualitas hidup pasien setelah menjalani operasi.

Dari kedua materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan terapi tidak hanya dinilai dari tertutupnya celah bibir maupun langit-langit, melainkan juga dari tercapainya fungsi tubuh yang optimal sehingga pasien dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pada sesi penutup, Dr. dr. Indri Aulia, Sp.B.P.R.E., Subsp.G.E.(K), M.Pd.Ked. memaparkan materi mengenai deteksi dini kelainan kongenital genitalia.

Ia menjelaskan sejumlah kelainan bawaan urogenital yang masih kerap terlambat dikenali di layanan primer, seperti hipospadia, bifid scrotum, buried penis, short urethra, hingga atresia vagina.

Peserta dibekali pemahaman mengenai tanda-tanda klinis yang harus dikenali sejak bayi baru lahir, pentingnya pemeriksaan fisik secara menyeluruh, serta waktu yang tepat untuk merujuk pasien ke pusat layanan yang memiliki kompetensi menangani kasus tersebut.

Dengan meningkatnya kemampuan deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan primer, diharapkan pasien memperoleh penanganan lebih cepat sehingga risiko komplikasi jangka panjang dapat ditekan.

Selama seminar berlangsung, diskusi antara narasumber dan peserta berjalan aktif. Berbagai pertanyaan diajukan terkait tata laksana awal di fasilitas kesehatan primer, mekanisme rujukan, hingga koordinasi pelayanan multidisiplin bagi pasien dengan kelainan bawaan.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan tenaga kesehatan di seluruh Puskesmas dan RSUD DKI Jakarta semakin memahami bahwa penanganan kelainan bawaan kraniofasial maupun urogenital tidak hanya berfokus pada tindakan operasi, tetapi juga membutuhkan deteksi dini, edukasi keluarga, pendampingan berkelanjutan, serta sistem rujukan yang terintegrasi agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat, tepat, dan menyeluruh sejak awal kehidupan pasien.

Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, dan mitra yang mendukung terselenggaranya seminar, khususnya Gentur Cleft Foundation, Wahana Visi Indonesia, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), Pigeon Indonesia, serta PT Essity Hygiene and Health Indonesia.

Kolaborasi antara Cleft Craniofacial Center, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, ARSADA, APJ, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan terus berlanjut guna memperkuat jejaring pelayanan kelainan bawaan di Indonesia. Dengan meningkatnya kapasitas tenaga kesehatan di layanan terdepan, setiap anak yang mengalami kelainan kraniofasial maupun urogenital diharapkan dapat memperoleh deteksi dini, rujukan yang tepat, serta pelayanan multidisiplin yang berkesinambungan sehingga memiliki kesempatan tumbuh, berkembang, dan mencapai kualitas hidup yang optimal.

x|close