Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 12 Orang, Enam Korban Satu Keluarga

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Jul 2026, 05:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Warga Palestina mengunjungi sebuah pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 15 Juni 2024. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad Warga Palestina mengunjungi sebuah pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 15 Juni 2024. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad (Antara)

Ntvnews.id, Gaza - Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan sedikitnya 12 orang tewas akibat serangan udara Israel yang mengguncang pusat Kota Gaza pada Selasa, 21 Juli 2026. Enam korban di antaranya merupakan satu keluarga setelah rumah mereka menjadi sasaran serangan.

Meski gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas masih berlaku, kekerasan di Jalur Gaza terus berlanjut. Upaya untuk mencapai kesepakatan damai permanen guna mengakhiri perang juga dilaporkan masih menemui jalan buntu.

Dilansir dari AFP, Rabu, 22 Juli 2026, salah satu serangan terbaru menghantam rumah keluarga Al-Masri. Menurut para saksi, enam anggota keluarga tersebut meninggal dunia, termasuk empat anak.

Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza mengonfirmasi telah menerima jenazah para korban beserta sejumlah warga yang mengalami luka-luka.

Sementara itu, militer Israel menyatakan serangan tersebut menyasar "seorang Hamas" yang berada di lokasi, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai identitas target.

Di lokasi kejadian, jurnalis AFP menyaksikan bangunan bertingkat yang hangus terbakar dengan bagian atap hampir seluruhnya runtuh akibat ledakan.

Baca Juga: 8 Warga Palestina Tewas dalam 24 Jam, Korban Jiwa di Gaza Tembus 73.231 Orang

Suasana duka terlihat di Rumah Sakit Al-Shifa. Kerabat korban berkumpul sambil menangis ketika jenazah seorang anak perempuan dimasukkan ke dalam kantong jenazah berwarna putih dan diletakkan berdampingan dengan korban lainnya.

"Serangan itu terjadi secara tiba-tiba," kata Ahmed al-Masri, yang memperkenalkan dirinya sebagai penyintas serangan tersebut.

"Saya bisa mendengar anak-anak berteriak minta tolong, namun saya tidak mampu menyelamatkan mereka," tambahnya.

"Seluruh keluarga saudara laki-laki saya telah terhapus dari daftar catatan sipil: dia, istrinya, dan keempat anak mereka."

Ahmed mengaku sempat menyelamatkan anak-anaknya sendiri dengan membantu mereka keluar melalui jendela saat api melalap bangunan.

Saksi lainnya, Youssef al-Masri, mengatakan serangan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

"Saat kami sedang tidur, kami mendengar suara ledakan dahsyat dan mendapati bahwa rumah tersebut telah dihantam tembakan, hancur, dan dilalap api," ujarnya.

Ilustrasi puing-puing reruntuhan gedung di Jalur Gaza akibat serbuan Israel yang berkelanjutan <b>(Antara)</b> Ilustrasi puing-puing reruntuhan gedung di Jalur Gaza akibat serbuan Israel yang berkelanjutan (Antara)

Selain insiden tersebut, Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan enam orang lainnya juga tewas dalam serangan Israel di lokasi berbeda pada hari yang sama.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sedikitnya 57 warga Palestina tewas akibat serangan Israel selama periode 13 hingga 20 Juli.

"Militer Israel telah meningkatkan serangannya di Gaza dalam beberapa hari terakhir," ujar juru bicara Kantor HAM PBB, Thameen Al-Kheetan, kepada wartawan di Jenewa.

"Tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza," imbuhnya.

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel mengaku telah melancarkan sejumlah operasi yang menyasar anggota Hamas dan Jihad Islam. Mereka dituduh terlibat dalam serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023 maupun aksi penyanderaan yang terjadi setelahnya.

Data Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas dan dinilai dapat diandalkan oleh PBB menunjukkan sedikitnya 1.168 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober tahun lalu.

Sementara itu, militer Israel melaporkan kehilangan lima tentaranya di Jalur Gaza dalam periode yang sama, serta seorang kontraktor sipil.

AFP menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban maupun melaporkan situasi di lapangan secara bebas karena pembatasan akses media yang masih diberlakukan di Jalur Gaza.

x|close