Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia mendorong penyelesaian Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Kanada (ASEAN-Canada Free Trade Agreement/ACAFTA) pada 2026 guna memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasok, serta membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan penyelesaian perundingan ACAFTA menjadi salah satu prioritas karena dinilai dapat memperkuat kerja sama ekonomi di kawasan.
“Penyelesaian tepat waktu Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Kanada (ACAFTA) adalah prioritas. Ini akan memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasokan, mendorong pertumbuhan inklusif, dan menciptakan peluang bagi UMKM,” kata Sugiono, menurut keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono saat menghadiri ASEAN Post Ministerial Conference with Canada yang berlangsung di Manila, Filipina, pada Selasa, 21 Juli 2026.
Baca Juga: ASEAN Serukan Kebebasan Navigasi dan Keamanan Maritim di Selat Hormuz
Selain kerja sama perdagangan, Sugiono menilai hubungan ASEAN dan Kanada juga perlu diperkuat melalui kolaborasi di bidang ketahanan pangan, transisi energi bersih, serta pemberdayaan generasi muda untuk mendukung terciptanya perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kemakmuran kawasan.
Menurutnya, ketahanan kawasan bergantung pada sistem pangan yang kuat dengan dukungan rantai pasok yang andal serta produktivitas pertanian yang berkelanjutan.
“Kekuatan dan keahlian pertanian Kanada, bersama dengan Kantor Pertanian dan Pangan Indo-Pasifik (IPAAO), menawarkan peluang untuk memajukan agenda ini,” kata Sugiono.
Ia juga menyoroti Dialog Strategis ASEAN-Kanada Perdana tentang Keamanan Energi sebagai langkah nyata untuk mempererat kerja sama dalam mendukung transisi energi bersih.
Baca Juga: Indonesia Siap Jadi Tuan Rumah Dialog ASEAN untuk Dukung Penyelesaian Krisis Myanmar
Sugiono menambahkan perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan menjadi fondasi utama bagi terciptanya kawasan yang stabil dan sejahtera. Karena itu, ia mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga perdamaian.
“Institut ASEAN untuk Perdamaian dan Rekonsiliasi (AIPR) memberi kita platform dan mandat untuk mempromosikan agenda Pemuda, Perdamaian, dan Keamanan melalui pencegahan dan penyelesaian konflik,” kata Sugiono.
Dalam kesempatan tersebut, Sugiono juga menegaskan pentingnya menjaga komitmen terhadap multilateralisme sebagai sarana membangun kepercayaan, menegakkan hukum internasional, dan mencari solusi bersama atas berbagai tantangan global.
“Kita harus menegakkan hukum internasional secara konsisten, tanpa standar ganda, termasuk di Palestina. Kita memiliki alat dan komitmen untuk memperkuat kerja sama regional dan multilateralisme, demi ketahanan, kemakmuran, dan perdamaian yang langgeng,” ujar Sugiono.
Kementerian Luar Negeri RI menyebut Kanada merupakan produsen sekaligus eksportir potash terbesar di dunia yang memiliki peran strategis dalam mendukung rantai pasok pangan serta peningkatan produktivitas pertanian di kawasan ASEAN.
ASEAN dan Kanada telah menjalin hubungan kemitraan sejak 1977 dan akan memperingati 50 tahun kerja sama pada 2027. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga mengadopsi ASEAN-Canada Plan of Action 2026-2030 sebagai pedoman kerja sama lima tahun ke depan di bidang politik, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya.
(Sumber: Antara)
Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam ASEAN Post Ministerial Conference (ASEAN PMC) dengan Kanada di Manila, Filipina, Rabu, 22 Juli 2026. (Antara)