Ribuan Pemukim Israel Masuk Kompleks Al Aqsa, Palestina dan Negara Arab Kecam Keras

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Jul 2026, 14:34
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Seorang penggemar Club Palestino mengibarkan bendera Palestina selama pertandingan sepak bola liga lokal melawan Santiago Wanderers di stadion La Cisterna di Santiago, Chili, Jumat, 12 Juli 2024. Seorang penggemar Club Palestino mengibarkan bendera Palestina selama pertandingan sepak bola liga lokal melawan Santiago Wanderers di stadion La Cisterna di Santiago, Chili, Jumat, 12 Juli 2024.

 

Ntvnews.id, Kairo/Ramallah - Ribuan pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki pada Kamis, 23 Juli 2026. Aksi yang berlangsung dengan pengawalan ketat kepolisian Israel dan diikuti sejumlah menteri pemerintahan Israel tersebut memicu kecaman dari Palestina serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Kepresidenan Palestina menilai tindakan tersebut sebagai "pelanggaran dan eskalasi yang berbahaya" serta "pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan legal," seraya memperingatkan bahwa hal itu mencerminkan kebijakan sistematis untuk memaksakan realitas baru dan upaya membagi masjid tersebut "berdasarkan waktu dan ruang."

Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Palestina, WAFA, Kepresidenan Palestina menegaskan Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem maupun seluruh tempat suci yang berada di wilayah tersebut.

Pemerintah Palestina juga mendesak masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghentikan berbagai pelanggaran yang dilakukan di wilayah Palestina.

Baca JugaIndonesia dan Negara-negara Muslim Kompak Kecam Serbuan Israel ke Masjid Al Aqsa

Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Fahmy turut mengecam keras insiden tersebut. Ia menyebut aksi masuknya pemukim Israel ke kompleks Al Aqsa terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan dinilai sebagai bagian dari upaya menerapkan pembagian waktu serta ruang di kawasan suci tersebut.

Menurut Fahmy, langkah tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius karena didukung oleh pihak-pihak yang memengaruhi kebijakan pemerintah Israel. Ia juga menilai upaya mengubah status quo di Kota Tua Yerusalem bertentangan dengan hukum internasional dan berisiko meningkatkan ketegangan di kawasan.

Kementerian Luar Negeri Mesir juga menyampaikan kecaman, terutama atas keterlibatan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir bersama sejumlah anggota Knesset atau parlemen Israel. Mesir menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap status quo historis dan legal.

Mesir memperingatkan bahwa aksi tersebut dapat memperburuk situasi, menghambat upaya deeskalasi, serta mengancam perdamaian dan stabilitas keamanan kawasan. Kairo juga meminta masyarakat internasional segera mengambil langkah untuk merespons kejadian tersebut.

Baca JugaIsrael Tutup Seluruh Akses Masjid Al-Aqsa , Ada Apa?

Berdasarkan data Departemen Urusan Awqaf Yerusalem dan Masjid Al Aqsa, lebih dari 3.000 pemukim Israel memasuki kompleks masjid untuk memperingati Tisha B'Av, hari puasa tahunan umat Yahudi.

Kompleks tersebut dikenal umat Islam sebagai Al Haram Al Sharif, sementara umat Yahudi menyebutnya Bukit Bait Suci. Lokasi itu merupakan salah satu kawasan paling sensitif secara keagamaan di Timur Tengah.

Sesuai kesepakatan yang telah lama berlaku, umat Islam memiliki hak untuk beribadah di kompleks tersebut. Sementara itu, umat non-Muslim diperbolehkan berkunjung, tetapi tidak diizinkan menjalankan ritual keagamaan.

Israel merebut Yerusalem Timur, termasuk kawasan Kota Tua, pada 1967 dan kemudian mencaplok wilayah tersebut. Namun, langkah tersebut hingga kini tidak mendapat pengakuan dari masyarakat internasional.

(Sumber: Antara)

 
 
 
x|close