Tragis! Pangeran Arab Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Jul 2026, 21:17
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi mayat. Ilustrasi mayat. (Antara)

Ntvnews.id, London - Seorang anggota keluarga kerajaan Arab Saudi ditemukan meninggal dunia di sebuah hotel mewah di London, Inggris, setelah mengonsumsi campuran alkohol dan sejumlah obat-obatan. Hasil penyelidikan koroner menyimpulkan kematiannya merupakan kecelakaan akibat konsumsi berbagai zat, bukan bunuh diri.

Dilansir dari Evening Standard, Jumat, 24 Juli 2026, Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi Al Saud ditemukan meninggal di kamar mandi Hotel Marriott, kawasan Kensington, London Barat, pada 25 November tahun lalu.

Menurut keterangan di Inner West London Coroner's Court, pria berusia 29 tahun itu telah menginap di hotel tersebut sejak 19 November dengan rencana tinggal selama satu pekan. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan Abdullah terakhir kali terlihat pada malam sebelum kematiannya ketika keluar hotel untuk merokok.

Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan menemukan kamar di lantai lima dalam keadaan terkunci dari dalam. Abdullah ditemukan masih mengenakan pakaian lengkap dan tergeletak di lantai kamar mandi.

Petugas keamanan hotel bersama tim ambulans segera mendatangi lokasi. Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil sehingga Abdullah dinyatakan meninggal dunia di tempat.

Baca Juga: Ribuan Pemukim Israel Masuk Kompleks Al Aqsa, Palestina dan Negara Arab Kecam Keras

Hasil pemeriksaan toksikologi menunjukkan kadar alkohol dalam darah Abdullah mencapai 222 mg etanol per 100 ml darah, hampir tiga kali lipat dari batas legal mengemudi di Inggris yang sebesar 80 mg per 100 ml darah. Kadar tersebut dinilai berada pada tingkat yang dapat memicu koma.

Selain alkohol, tim forensik juga menemukan kadar Gamma-hydroxybutyrate (GHB) atau yang dikenal sebagai "party drug" dalam tingkat yang berpotensi mematikan. Di tubuh Abdullah juga terdeteksi ganja, alprazolam (Xanax) dalam dosis rekreasional, serta sejumlah obat antikecemasan lain dalam dosis terapi.

Sebelum meninggal, Abdullah diketahui memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan Xanax. Pada Agustus tahun lalu, ia sempat menjalani rehabilitasi intensif di Priory Clinic, Roehampton, London Barat Daya.

Selama menjalani perawatan, Abdullah mengikuti program detoksifikasi dari alkohol, benzodiazepin, dan pregabalin. Psikiater konsultan Dr. Victoria Chamorro menyampaikan bahwa proses terapi berjalan baik tanpa menimbulkan efek samping fisik.

"Ia sangat kooperatif dan bersikap baik kepada pasien lain sehingga menjalin banyak pertemanan," ujar Chamorro dalam keterangannya di pengadilan.

Chamorro menambahkan Abdullah sempat mengalami gangguan suasana hati dan kecemasan saat pertama kali dirawat. Namun, ketika dipulangkan, tim medis tidak menilai adanya indikasi atau risiko bunuh diri.

Usai keluar dari Priory Clinic, Abdullah melanjutkan perawatan di Rainford Hall Clinic di St Helens, Merseyside. Di fasilitas tersebut ia sempat didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan atas sebelum akhirnya dinyatakan pulih dan keluar pada 14 Oktober.

Hasil autopsi tidak menemukan adanya penyakit akut maupun kronis. Koroner menyimpulkan Abdullah mengalami henti jantung akibat kombinasi alkohol dan berbagai jenis obat yang dikonsumsinya.

Asisten Koroner Jean Harkin menyatakan tidak ditemukan bukti bahwa Abdullah memiliki niat mengakhiri hidupnya. Tidak ada surat ataupun pesan yang ditinggalkan, sementara rekaman CCTV juga tidak menunjukkan adanya keterlibatan pihak lain sebelum kematiannya.

Atas dasar itu, pengadilan menetapkan penyebab kematian sebagai "death by misadventure", yakni kematian akibat tindakan berisiko yang tidak disengaja, dengan penyebab medis berupa konsumsi berbagai jenis zat (multi-drug ingestion). Jean Harkin juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mendiang Pangeran Abdullah.

x|close