Irak Kecam Serangan Gabungan AS-Arab Saudi yang Tewaskan 20 Orang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jul 2026, 07:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kelompok milisi Irak yang didukung Iran pada Minggu mengeklaim serangan pesawat tanpa awak dan rudal ke Kelompok milisi Irak yang didukung Iran pada Minggu mengeklaim serangan pesawat tanpa awak dan rudal ke (Antara)

Ntvnews.id, Banghdad - Presiden Irak Nizar Amedi mengecam serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi yang menghantam sejumlah wilayah di Irak pada Rabu, 29 Juli 2026y Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 anggota bekas aliansi paramiliter yang menaungi kelompok-kelompok pro-Iran.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 30 Juli 2026, Amedi dalam pernyataannya menyebut serangan mematikan itu tidak dapat diterima. Ia juga menilai aksi militer tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, yang menargetkan lembaga keamanan resminya bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa".

Amedi menegaskan bahwa wilayah Irak tidak boleh dijadikan "landasan atau arena untuk serangan terhadap negara-negara tetangga atau untuk menyelesaikan perselisihan regional dan internasional".

Selain itu, ia menyerukan "semua pihak untuk menghormati kedaulatan Irak dan menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat merusak keamanan dan stabilitasnya".

Sementara itu, serangan gabungan AS dan Arab Saudi dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), aliansi yang sebelumnya terdiri atas berbagai kelompok paramiliter, termasuk faksi-faksi pro-Iran, yang kini telah menjadi bagian dari angkatan bersenjata Irak.

Baca Juga: BPDP Gelontorkan Rp240 Triliun untuk Biodiesel, RI Hemat Devisa Rp722 Triliun

Amerika Serikat dan Arab Saudi menyatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan drone yang diluncurkan dari wilayah Irak ke arah pasukan AS dan fasilitas minyak milik Arab Saudi.

Mengutip AFP, PMF menyampaikan bahwa sedikitnya 20 petempurnya "tewas dan 32 lainnya terluka menurut penghitungan sementara".

Dalam pernyataannya, PMF juga mengatakan "agresi" AS dan Arab Saudi menyasar pangkalan mereka di tujuh provinsi, termasuk Baghdad, Nineveh di Irak utara, serta Basra di bagian selatan. Serangan itu disebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan material.

PMF turut mengecam eskalasi berbahaya yang dinilai menyasar lembaga keamanan resmi.

Seorang pejabat PMF yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada AFP bahwa serangan di Provinsi Nineveh dan Diyala merupakan yang paling mematikan dibandingkan lokasi lainnya.

x|close