BMKG Minta ESDM dan PLN Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik saat El Nino

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jul 2026, 17:12
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan para pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di berbagai daerah agar menyusun pengelolaan penggunaan air secara cermat. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan listrik di tengah meningkatnya kebutuhan energi selama fenomena El Nino.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026, mengatakan peningkatan konsumsi listrik secara nasional umumnya terjadi bersamaan dengan berkurangnya cadangan air di waduk akibat cuaca panas dan kekeringan.

"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," kata Ardhasena.

Menurut dia, kenaikan suhu udara yang cukup tinggi selama musim kemarau akan berdampak pada meningkatnya beban puncak listrik. Kondisi itu dipicu oleh semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan perangkat pendingin ruangan.

Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga air juga berpotensi mengalami penurunan kapasitas produksi apabila volume air di waduk maupun danau terus menyusut tanpa adanya pengelolaan penggunaan air yang efektif.

Baca Juga: BMKG Sebut El Nino Masuk Kategori Kuat, Operasi Modifikasi Cuaca Dipercepat

Karena itu, BMKG mengimbau Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, serta para pengelola bendungan memanfaatkan pembaruan data iklim sebagai dasar dalam menentukan pola operasional turbin air.

"Manajemen alokasi air yang presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau," katanya.

Ardhasena menambahkan, penerapan langkah antisipasi sejak awal dan efisiensi penggunaan air operasional diyakini mampu menjaga keandalan pasokan listrik nasional meski Indonesia menghadapi tekanan gelombang panas akibat El Nino.

Sementara itu, Direktorat Klimatologi BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan karakteristiknya, indeks El Nino diprediksi mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

Baca Juga: Prabowo Instruksikan BMKG Perkuat Kesiapan Langkah Hadapi Kemarau dan El Nino

BMKG juga mencatat hasil prediksi terbaru menunjukkan adanya peluang El Nino tahun ini berkembang hingga melampaui kategori kuat. Oleh sebab itu, potensi dampaknya terhadap kondisi iklim nasional perlu terus diwaspadai.

Berdasarkan pemantauan iklim pada dasarian terakhir Juli 2026, musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia dilaporkan semakin menguat.

Hingga periode tersebut, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, hanya tersisa 77 Zona Musim yang masih mengalami musim hujan.

Secara spasial, musim kemarau kini mendominasi wilayah di selatan garis khatulistiwa, mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Wilayah-wilayah tersebut berada dalam kategori Merah (lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan/HTH), Merah Muda (31–60 HTH), dan Cokelat Tua (21–30 HTH).

"Kondisi tersebut sesuai pola klimatologis Indonesia, di mana musim kemarau umumnya bermula dari Nusa Tenggara Timur, kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat," kata Ardhasena.

(Sumber: Antara)

x|close