Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, menggelar pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta sejumlah pejabat tinggi AS di Gedung Putih pada Rabu, 29 Juli 2026 waktu setempat. Pertemuan itu berlangsung hanya beberapa jam setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi yang menyasar kelompok milisi dukungan Iran di wilayah timur Irak.
Dilansir dari Al Arabiya, Jumat, 31 Juli 2026, kunjungan Pangeran Khalid ke Washington sejatinya telah dijadwalkan pada pekan lalu. Namun, agenda tersebut ditunda karena meningkatnya serangan yang dilakukan kelompok-kelompok milisi pro-Iran di kawasan.
Dalam pertemuannya dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Pangeran Khalid menegaskan bahwa Arab Saudi tidak akan mentoleransi serangan terhadap infrastruktur energi maupun sasaran sipil di wilayahnya. Pernyataan itu disampaikan berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan kepada Al Arabiya.
JD Vance menyambut baik kunjungan tersebut dan memberikan apresiasi kepada Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Baca Juga: Irak Kecam Serangan Gabungan AS-Arab Saudi yang Tewaskan 20 Orang
Menurut sumber tersebut, keterlibatan Riyadh dalam operasi militer di Irak pada Selasa malam dimaksudkan sebagai sinyal tegas, tidak hanya kepada milisi di Irak, tetapi juga kepada kelompok Houthi di Yaman. Pesan tersebut menegaskan bahwa Kerajaan Arab Saudi tidak akan membiarkan serangan terhadap fasilitas energi maupun infrastruktur sipil.
Dalam kesempatan itu, Pangeran Khalid juga menyerukan upaya untuk menurunkan ketegangan di kawasan dan menjaga stabilitas regional. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Arab Saudi memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempertahankan diri apabila diperlukan. Ia juga menekankan bahwa Riyadh tidak menginginkan meluasnya konflik di kawasan.
Pertemuan di Gedung Putih itu berlangsung setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan ke Washington pada pekan ini. Berdasarkan sumber yang sama, Arab Saudi saat ini lebih memprioritaskan berbagai langkah untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Seusai operasi gabungan AS-Saudi di Irak, Kementerian Pertahanan Arab Saudi kembali menegaskan sikap pemerintahnya.
"tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons setiap agresi yang dihadapinya." pungkasnya.
Kelompok milisi Irak yang didukung Iran pada Minggu mengeklaim serangan pesawat tanpa awak dan rudal ke (Antara)