A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Indonesia Net-Zero Summit 2026 Gaungkan "It's Time to Deliver", Saatnya Wujudkan Aksi Iklim Nyata - Ntvnews.id

Indonesia Net-Zero Summit 2026 Gaungkan "It's Time to Deliver", Saatnya Wujudkan Aksi Iklim Nyata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Agu 2026, 14:12
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Foreign Policy Community of Indonesia telah menyelenggarakan Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Balai Kartini, Jakarta. (Foto: Dok/Istimewa/Sekretariat FPCI) Foreign Policy Community of Indonesia telah menyelenggarakan Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Balai Kartini, Jakarta. (Foto: Dok/Istimewa/Sekretariat FPCI)

Ntvnews.id, Jakarta - Foreign Policy Community of Indonesia telah menyelenggarakan Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Balai Kartini, Jakarta.

Tahun ini, INZS telah menghadirkan hampir 10.000 peserta, lebih dari 130 mitra, 60 pembicara. Summit tahun ini membawakan tema "It’s Time to Deliver!". Tema ini menekankan momentum penting ketika komitmen iklim global dan nasional harus mulai diterjemahkan menjadi aksi nyata.

Di tengah gejolak geopolitik dan tekanan ekonomi global, transisi menuju net-zero tidak lagi bisa dipandang sebagai agenda jangka panjang yang dapat ditunda, melainkan sebagai kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan suatu bangsa.

Ambisi besar akan membawa perubahan bermakna jika didukung oleh implementasi yang kredibel dan konsisten. Kini saatnya seluruh pihak-pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat, bergerak menuju hasil yang terukur dan berdampak nyata.

Dalam sambutan pembukaannya, Dino Patti Djalal menyoroti tema INZS tahun ini. Dia percaya perang melawan perubahan iklim adalah salah satu perjuangan terpenting saat ini, yang sayangnya seringkali terabaikan oleh berbagai gangguan global.

"Perubahan iklim tidak pernah berhenti berubah. Ia adalah pondasi yang menentukan kesehatan, politik, perdamaian, keamanan, ekonomi, industri, migrasi, kesejahteraan individu dan sosial, infrastruktur, pangan, energi, air, lapangan kerja, segala hal. Ia adalah kekuatan paling penting yang menentukan nasib umat manusia. Perubahan iklim berada di atas segalanya. Ia harus menjadi yang nomor satu," jelas Dino.

Urgensi tersebut semakin terasa, terlebih lagi karena meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi tatanan global, dan kekhawatiran terhadap keamanan energi. Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara komitmen iklim dan pelaksanaannya, khususnya dalam aspek pendanaan, teknologi, dan jalur transisi.

Pada saat yang sama, banyak negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara, memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk masa depan tata kelola iklim global dan transisi energi.

Dalam konteks ini, INZS 2026 berupaya menjadi platform bagi para pihak untuk bertukar perspektif, memperkuat kerja sama, dan mengeksplorasi solusi pragmatis agar transisi menuju masa depan yang berkelanjutan tetap dapat dicapai secara inklusif.

"Climate change is about everything else. It should be goal number one. If we don't get climate right, we get everything else wrong (Perubahan iklim adalah tentang segalanya. Itu seharusnya menjadi tujuan nomor satu. Jika kita tidak menyelesaikan masalah iklim, maka kita akan salah dalam segala hal)," sambung Dino.

"Dunia dengan (kenaikan) suhu 3 derajat Celcius akan menyakiti kita semua. Kita semua akan menderita, dan itu tidak bisa diputar balik. Kita bisa bertindak sekarang, ini adalah celah kecil yang tersisa hingga 2030," tegas Dino.

Retno Marsudi, UN Secretary-General's Special Envoy on Water kemudian menyebut bahwa salah satu elemen penting dari pondasi menuju transisi menuju Net-Zero adalah air.

"Emisi nol bersih (net-zero) tidak akan tercapai tanpa ketahanan air. Air berperan dalam mitigasi dan adaptasi, sedangkan ekosistem air adalah fondasi ketahanan iklim," ungkap Retno.

Sementara itu, Moh. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) RI menilai bahwa transisi menuju Net-Zero jangan dianggap sebagai beban.

"Di tengah dunia yang tidak pasti, agenda iklim dan transisi hijau justru menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan bangsa. Transisi menuju net-zero bukan beban tambahan, tetapi cara kita menjaga masa depan, kami merumuskan pendekatan kebijakan yang bertumpu pada tiga pilar yang saling terhubung, yaitu mitigasi, adaptasi, dan prosperity, atau kesejahteraan. Tiga kata ini bukan sekadar slogan; tiga-tiganya harus jalan bersama," papar Jumhur.

"Tema "It's Time to Deliver" menuntut kita menjawab satu pertanyaan sederhana: apa arti “delivery” bagi Indonesia?" jelas Jumhur.

Menurut Jumhur, setidaknya ada beberapa prioritas yang perlu didorong bersama.

"Pertama, memperkuat integritas tata kelola lingkungan. Kedua, mempercepat transformasi rendah karbon tanpa melampaui batas ekologi. Ketiga, menjadikan adaptasi dan ketahanan sebagai prioritas pembangunan. Keempat, memastikan transisi bekerja untuk rakyat. Kelima, membangun kemitraan implementasi yang nyata. Pada akhirnya, pesan dari "It's Time to Deliver" sangat sederhana tetapi tegas," tutur Jumhur.

Jumhur juga menilai saat ini adalah momen yang tepat untuk melakukan perubahan nyata melalui pernyataan berikut:

-Saatnya kita deliver pada agenda mitigasi: bukan hanya komitmen, tetapi penurunan emisi yang terlihat.
-Saatnya kita deliver pada agenda adaptasi: perlindungan nyata bagi masyarakat dari risiko iklim.
-Saatnya kita deliver pada agenda prosperity: memastikan transisi hijau menjadi sumber kesejahteraan, bukan sumber ketidakpastian baru.

Setelah rangkaian diskusi sehari penuh, acara INZS 2026 ditutup oleh penampilan khusus oleh Teddy Adhitya, sebagai sarana untuk mengkampanyekan "No Music on A Dead Planet" – sebuah movement guna menyuarakan isu mengenai perubahan iklim dan lingkungan melalui penampilan musik.

Selama sehari, INZS 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Melalui FPCI Climate Unit, FPCI berkomitmen untuk turut serta mengamati perkembangan isu iklim di Indonesia, mengadvokasikan aksi perjuangan iklim yang lebih konkrit melalui berbagai program dan inisiatif, serta berkontribusi untuk tujuan bersama bangsa Indonesia mencapai net-zero.

HIGHLIGHT

x|close